Pengamat Soroti Ketimpangan Sarpras dan Potret Kerusakan Sekolah di Kalsel

  • 03 Mei 2026 13:42 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Ketimpangan sarana prasarana sekolah antara wilayah pusat kota dan pinggiran di Kalimantan Selatan masih terlihat kontras. Perbedaan kualitas fasilitas ini menjadi salah satu sorotan dalam peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026.

Pengamat Pendidikan, Reja Pahlevi, menilai kondisi bangunan sekolah yang tidak memadai masih banyak ditemukan di wilayah pelosok hingga pinggiran kota. Berdasarkan data tahun 2025, tercatat sedikitnya 800 sekolah di Kalsel mengalami kerusakan fisik mulai dari bagian atap hingga lantai bangunan.

Kondisi infrastruktur pendidikan tersebut semakin diperparah akibat dampak bencana banjir pada awal tahun 2026. Hal ini pun secara signifikan menurunkan kualitas bangunan dan menimbulkan kekhawatiran di lingkungan sekolah.

"Di Banjarmasin saja misalnya, kita sering melihat beberapa peristiwa sekolah roboh atau halaman sekolah yang terendam. Itu juga salah satu yang patut disoroti," katanya kepada RRI pada Sabtu, 2 Mei 2026.

Reja menekankan pentingnya pemutakhiran basis data agar langkah perbaikan tidak hanya bersifat responsif atau menunggu kondisi menjadi viral. Menurutnya, pihak sekolah pun harus proaktif memverifikasi data kerusakan fisik melalui sistem Data Pokok Pendidikan (Dapodik) secara rutin.

"Kalau sekolah juga proaktif, pasti akan terselesaikan persoalan ini. Sekaligus juga membantu verifikasi data kerusakan sekolah yang sudah ada," ucap Reja.

Potret nyata kondisi infrastruktur pendidikan tersebut sempat terlihat di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Sungai Lulut 3 Banjarmasin. Di sekolah tersebut, sejumlah ruang kelas dilaporkan mengalami kerusakan lantai amblas yang kian parah pascabanjir awal 2026 lalu.

Akibat kondisi pondasi yang melengkung, pihak sekolah sempat memutuskan untuk mengosongkan ruangan demi menjamin keselamatan siswa. Situasi ini menjadi gambaran nyata tantangan infrastruktur yang dihadapi satuan pendidikan di lapangan.

"Kondisi kelas yang di tengah melengkung dan sepertinya lebih parah dari kelas di sampingnya. Jadi akhirnya tidak kami gunakan lagi ruangannya," ujar Kepala SDN Sungai Lulut 3, Huda Ahmadi.

Saat ini, Huda mengonfirmasi bahwa rencana perbaikan sudah memasuki tahap perencanaan. Langkah ini pun diharapkan mampu mengembalikan fungsi ruang kelas agar proses belajar mengajar tidak lagi terganggu.

Persoalan infrastruktur ini pun diharapkan menjadi perhatian serius demi terciptanya pemerataan kualitas sekolah di seluruh wilayah Kalsel. Penanganan yang cepat dan tepat sangat dinantikan agar tidak ada lagi infrastruktur yang kondisinya membahayakan keselamatan warga sekolah.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....