Perbedaan sebagai Sunnatullah Sebagai Ekspresi Keberagaman

  • 19 Apr 2026 22:23 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin : Perbedaan merupakan hal yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia, termasuk dalam menjalankan ajaran agama. Perbedaan cara berpikir, kebiasaan, hingga pemahaman keagamaan menjadi dinamika yang wajar di tengah masyarakat. Hal ini disampaikan Akademisi UIN Antasari Banjarmasin, Ustadz Dr. Muhammad Zainal Abidin, M.Ag., pada acara Kuliah Subuh di RRI Pro4 Banjarmasin, Selasa 14 April 2026.

Dalam tausiyahnya Muhammad Zainal menyampaikan bahwa dalam tradisi Islam dikenal ungkapan klasik berbahasa Arab, “likulli ra’sin ra’yun” yang berarti setiap individu memiliki pandangan masing-masing.

Ia juga mengutip ungkapan “al-Islam syai’un wa al-muslim syai’un akhar”, yang menegaskan bahwa Islam sebagai ajaran adalah satu hal, sementara umat Muslim sebagai pelaksana merupakan hal yang lain, sehingga keduanya tidak selalu beririsan secara sempurna.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa “al-Islam wahid wa al-muslim katsir” menggambarkan bahwa Islam itu satu, namun umatnya banyak. Oleh karena itu, ekspresi keberislaman pun menjadi beragam."Dalam hal masalah fikih misalnya kita mengenal mazhab fiqh utama seperti Hanafi, Maliki, Syafii, dan Hambali. Dalam aliran Kalam, kita mengenal ada kelompok Sunni, Syiah, dan Wahhabi,"jarnya.

Zainal Abidin juga mengatakan ada juga Firqah Mu’tazilah,Asy’ariyah dan Maturidiyyah dan sebagainya. Dalam tasawuf kita mengenal banyak aliran tarekat seperti TQN, Alawiyyah, Sammaniyah dan lainnya.

"Dalam kelompok organisasi keagamaan kita mengenal ada NU, Muhammadiyah, Persis, al Washliyah dan seterusnya, kesemuanya merupakan bagian dari ekpresi keberagamaan, baik pada level pengetahuan keagamaan (akidah), pengalaman keberagamaan (fikih), sikap keberagamaan (tasawuf) maupun organisasi keagamaan." ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....