Demang Lehman: Panglima Perang Banjar yang Gugur di Tiang Gantung
- 13 Apr 2026 08:51 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Nama Demang Lehman cukup terkenal di Kalimantan. Ada sejumlah jalan di Kalimantan Selatan dan Tengah dinamai dengan jalan Demang Lehman. Belakangan Stadium sepakbola terbesar yang terletak di Martapura, Kabupaten Banjar yang diresmikan oleh Sultan Khairul Saleh, juga dinamai Demang Lehman.
Namun tidak banyak tau siapa Demang Lehman itu yang Namanya banyak diabadikan sebagai nama jalan dan juga bangunan. Mengutip dari laman Wikipedia Demang Lehman yang bergelar Adhipattie Mangko Nagara (Adipati Mangku Negara), lahir di Martapura tahun 1832, adalah salah seorang panglima perang dalam Perang Banjar. Dia terlahir dengan nama Idis ar(distrik) di Kesultanan Banjar.
Mengutip dari tulisan Ahmad Barjie,B dalam bukunya Perang Banjar Barito disebutkan Demang lehman Semula merupakan seorang Punakawan (ajudan dari Pangeran Hidayatullah sejak tahun 1857. Pada awal perang, Demang Lehman memimpin kekuatan dan perlawanan di sekitar Martapura dan Tanah laut, bersama Kiayi Langlang dan Haji Buyasin.
Pergerakan Demang Lehman dalam melawan Belanda Ketika itu sangat menyulitkan belanda. Demang lehman bersama pasukannya melakukan Gerakan perlawanan tidak hanya di Martapura dan tanah laut akan tetapi juga sampai di Gunung Pangkal, Baru licin, Tanah Bumbu. Hingga pada akhirnya Demang Lehman dapat ditangkap disebabkan penghianatan Syarif Hamid bersama pasukannya yang tergiur hadiah dan jabartan dari Belanda.
Demang Lehman selanjutnya dibawa Ke Martapura , Pemerintah Belanda menetapkan hukuman gantung pejuang yang gagah berani ini. Demang Lehman mejalani hukuman gantung di Martapaura melalui Pengadilan Militer Belanda pada 27 Febuari 1864. Tempat eksekusi di depan Masjid Al Karomah sekarang yang dulunya ada jalan Bernama Demang Lehman.
Menjelang hukuman gantung Demang Lehman berucap “Dangar. Dangar berataan, Banua Banjar kalu kada dipalas lawan banyu mata dan darah, marikit dipingkuti Walanda,” artinya dengarlah semua, Banua Banjar ini kalau ditak dibasahi dengan air mata dan darah, akan terus dijajah oleh Belanda.
Pejabat-pejabat militer Belanda yang menyaksikan hukuman gantung ini merasa kagum dengan ketabahannya menaiki tiang gantungan tanpa mata ditutup. Urat mukanya tidak berubah menunjukkan ketabahan yang luar biasa.
Setelah selesai digantung dan mati, kepalanya dibawa oleh Konservator Rijksmuseum van Volkenkunde Leiden. Kepala Demang Lehman disimpan di Museum Leiden di Negeri Belanda, sehingga mayatnya dimakamkan tanpa kepala.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....