Wujudkan Sekolah Ramah Anak, Smansa Batasi Penggunaan Gawai saat Pembelajaran
- 06 Apr 2026 22:16 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Dalam upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang ramah anak, SMAN 1 Banjarmasin menerapkan aturan pembatasan penggunaan gawai bagi siswa selama proses pembelajaran. Kebijakan ini diterapkan karena penggunaan gawai yang berlebihan dinilai dapat berdampak negatif bagi siswa.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMAN 1 Banjarmasin, Giat Prima Yoga, mengatakan kebijakan tersebut sebenarnya sudah mulai diterapkan sejak tahun 2023. Hal ini mengingat upaya SMAN 1 Banjarmasin mewujudkan Sekolah Ramah Anak.
“Jadi salah satu indikator yang harus kami penuhi itu harus ada aturan terkait pembatasan gadget atau gawai selama pembelajaran,” ujar Giat saat ditemui di Sekolah, Kamis, 2 April 2026.
Giat menjelaskan kebijakan ini mengharuskan para siswa untuk mengumpulkan gadget ketika pembelajaran sedang berlangsung. Gadget baru bisa digunakan ketika ada intruksi dari guru kelas untuk keperluan dalam pembelajaran.
“Jadi kami sudah rumuskan edaran dari kepala sekolah, kemudian kita juga sudah sosialisaikan kepada siswa dan orang tua siswq adanya pembatasan penggunaan gadget ini,” ujarnya.
Ia menambahkan Langkah ini juga sejalan dengan kebijakan Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Selatan yang memberlakukan peraturan tersebut di seluruh sekolah. Hal ini merupakan bentuk pemahaman yang kuat dalam rangka menciptaan kualitas pendidikan yang baik bagi siswa.
“Tentunya hal ini bukan yang baru, kami tinggal menguatkan lagi sosialisainya juga kepada orang tua baik itu teknisnya maupun alasan kenapa hal tersebut kami terapkan di sekolah,” ucapnya.

Adanya kebijakan ini sangat diterima baik oleh para siswa. Hal itu disampaikan Junetha dan Dyla Siswi kelas 10 yang menyebut adanya pembatasan penggunaan gawai selama pembelajaran ini sangat bagus untuk diterapkan.
“Menurut saya adanya pembatasan penggunaan gadget ini cukup berpengaruh ya kepada pembelajaran supaya para siswa menjadi lebih fokus dalam menerima pembelajaran dan tidak terpecah fokus bermain gadget,” kata Junetha.
Sementara itu, Dyla menambahkan adanya kebijakan ini diharapkan bisa mengurangi kebiasaan para siswa yang mengandalkan gadget ketika pembelajaran. Sehingga para siswa bisa mencari sumber pelajaran di sekitar mereka tanpa harus membuka gadget yang malah bisa membuat hilang fokus.
“Adanya peraturan ini semoga para siswa lebih giat lagi ya, supaya tidak malas. Sebenarnya manfaat gadget itu banyak ketika mau cari informasi tinggal klik saja sudah muncul, tapi itu untuk proses pembelajaran saya rasa ada dampak negatifnya bisa membuat ketergantungan,” katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....