WFH atau Nambah Libur? Pemko Banjarmasin Masih Pikir-Pikir
- 05 Apr 2026 11:19 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin – Pemerintah Kota (Pemko) Banjarmasin tak gegabah mengikuti kebijakan Pemerintah Pusat terkait penerapan Work From Home (WFH) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) setiap hari jumat. Alih-alih buru-buru menerapkan, Pemko justru memilih menghitung matang dampaknya agar tidak berbalik merugikan pelayanan publik.
Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Daerah Kota Banjarmasin, Dolly Syahbana, menegaskan bahwa kebijakan WFH tidak bisa disamaratakan di semua lini. Ia menyebut, karakteristik pekerjaan ASN yang beragam menjadi pertimbangan utama.
“WFH mungkin bisa diterapkan untuk aktivitas kerja yang tidak bersentuhan dengan pelayanan. Kalau yang sifatnya pelayanan langsung, bisa dilakukan secara bergantian. Tapi ini masih kita hitung,” tegas Dolly.
Menurutnya, tujuan utama kebijakan WFH yakni efisiensi, justru perlu dikaji lebih dalam jika diterapkan di Kota Seribu Sungai. Pasalnya, kondisi geografis Banjarmasin dinilai tidak terlalu luas sehingga potensi penghematan energi tidak signifikan.
“Kita masih memperhitungkan berapa efisiensi yang kita dapat dibandingkan dengan tidak WFH. Wilayah kita kan tidak begitu luas, tidak banyak memerlukan energi seperti BBM atau listrik,” ujarnya.
Tak hanya soal efisiensi, Dolly juga mengingatkan potensi penyalahgunaan kebijakan jika tidak diawasi secara ketat. Ia bahkan menyinggung kemungkinan ASN menjadikan WFH sebagai celah memperpanjang waktu libur.
| Baca juga: Pemprov Kalsel Pastikan Tidak Berlakukan WFH |
“Takutnya diberlakukan WFH malah tidak bekerja di rumah. Dipilih gandengan hari libur seperti Jumat atau Senin, malah terlalu nyaman pada liburan,” ucapnya.
Sebagai alternatif, Pemko Banjarmasin justru melirik pendekatan yang lebih konkret dalam menekan konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM), yakni dengan mendorong ASN menggunakan sepeda saat berangkat kerja setiap hari Jumat. “Kalau tujuannya efisiensi energi, kenapa tidak sekalian kita dorong ASN bersepeda ke kantor? Dampaknya lebih terasa, BBM berkurang, kesehatan juga dapat,” ujarnya.
Gagasan ini dinilai tidak hanya menyasar penghematan energi, tetapi juga membawa efek domino positif bagi lingkungan dan gaya hidup sehat. Namun demikian, Dolly menegaskan bahwa wacana tersebut masih dalam tahap kajian dan belum menjadi keputusan final.
“Saat ini masih kita bahas dan matangkan. Kita lihat kesiapan di lapangan, termasuk faktor keamanan dan fasilitas pendukung,” ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....