Waspada Virus Nipah Mengintai, Dinkes Banjarmasin Bongkar Penularannya

  • 13 Feb 2026 18:21 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin – Meski belum ditemukan kasus positif di Indonesia, ancaman Virus Nipah tak bisa dianggap sepele. Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin (Dinkes) mengingatkan masyarakat untuk tetap siaga terhadap potensi penyebaran penyakit zoonosis yang dikenal mematikan tersebut.

Virus Nipah merupakan penyakit emerging disease yang berasal dari hewan, terutama kelelawar pemakan buah. Penularannya pun dinilai tidak sederhana. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Banjarmasin, Emma Ariesnawati menegaskan, meski belum ada kasus di Banjarmasin, kewaspadaan tidak boleh kendur.

“Virus Nipah merupakan penyakit emerging disease yang berasal dari hewan,” ucapnya. “Penularannya cukup beragam, sehingga kewaspadaan masyarakat sangat diperlukan meski belum ada kasus”.

Ia menjelaskan, virus dapat menyebar melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi, paparan cairan tubuh penderita, hingga konsumsi makanan atau minuman yang telah terkontaminasi. Salah satu yang disorot adalah konsumsi nira mentah yang diambil langsung dari pohon.

“Kami mengimbau warga tidak mengonsumsi nira mentah karena berpotensi terpapar cairan tubuh kelelawar,” ujarnya. “Salah satu yang disorot adalah konsumsi nira mentah yang diambil langsung dari pohon”.

Masa inkubasi Virus Nipah berkisar antara 4 hingga 14 hari, dengan gejala awalnya kerap dianggap ringan, seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, muntah, dan sakit tenggorokan. Namun dalam kondisi tertentu, infeksi bisa berkembang cepat dan menyerang sistem saraf.

“Pada kasus berat, penderita bisa mengalami pusing hebat, mengantuk berlebihan,” ucapnya. “penurunan kesadaran, bahkan radang otak akut atau encephalitis”.

Hingga kini, diagnosis masih mengandalkan pemeriksaan PCR. Yang mengkhawatirkan, belum tersedia obat khusus maupun vaksin untuk Virus Nipah. Penanganan pasien hanya bersifat suportif sesuai gejala.

“Karena belum ada terapi spesifik, pencegahan menjadi kunci utama,” kata Emma. “Penanganan pasien juga hanya bersifat suportif sesuai gejala”.

Dinkes juga menyoroti faktor geografis Indonesia dan tingginya mobilitas antarnegara yang dinilai meningkatkan risiko masuknya penyakit menular baru. Karena itu, langkah preventif harus diperketat dan masyarakat diminta mencuci dan mengupas buah sebelum dikonsumsi, membuang buah yang terdapat bekas gigitan hewan, serta memastikan daging ternak dimasak hingga matang sempurna.

“Pastikan juga menghindari kontak dengan hewan yang terlihat sakit,” ucapnya. “Masyarakat diminta mencuci dan mengupas buah sebelum dikonsumsi, membuang buah yang terdapat bekas gigitan hewan”.

Selain itu, penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) seperti rutin mencuci tangan, menerapkan etika batuk dan bersin, serta menggunakan masker saat merasa tidak sehat terus digencarkan. Di tengah maraknya informasi yang beredar, Dinkes juga mengingatkan warga agar tidak mudah terpancing isu yang belum jelas sumbernya.

“Kami harap masyarakat bijak dalam menerima dan menyebarkan informasi,” ucapnya. “Pastikan sumbernya resmi dan dapat dipertanggungjawabkan”.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....