Di Bawah Atap Halte, Aini Menjual Harapan

  • 04 Feb 2026 14:00 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin – Hujan turun semenjak subuh masih membasahi kota seribu sungai, Langit kelabu menaungi sebuah halte bis yang tampak biasa saja, namun disanalah Aini (66) tahun seorang nenek di kota Banjarmasin melalui hari dengan sabar.

Di bangku halte, ia merapatkan sesekali tubuhnya yang ringkih, menata bungkusan kecil berisi kacang goreng dan kue semprong hasil olahan tangannya sendiri. “Kalau hujan seperti ini biasanya sepi, tapi saya tetap berjualan, rezeki kan tidak selalu soal ramai,” ucapnya lirih sambil membetulkan plastik dagangannya, Rabu 4 Febuari 2026,

Aini menceritakan bahwa sejak pukul tujuh pagi hingga siang menjelang, halte ini menjadi ruang penghidupannya. Tak ada terpal atau meja jualan, hanya sisa keteduhan dari atap halte penahan air hujan. Hasilnya tak pernah pasti, jika Nasib baik, Aini bisa membawa pulang sekitar Rp.50.000. Namun tak jarang, hujan dan sepi penumpang membuatnya pulang hanya dengan beberapa rupiah saja.

“Yang penting ada dibawa pulang, walaupun sedikit daripada tidak ada sama sekali,” ucapnya sambil tersenyum tipis.

Aini tinggal di satu petak kamar sempit dari rumah warisan orang tuanya. Rumah itu kini ditempati anaknya yang telah berkeluarga meski demikian ia bersekeras memenuhi kebutuhannya sendiri.

“Anak saya sudah punya keluarga sendiri, tidak enak kalau harus bergantung sama anak, selama tangan ini masih bisa bekerja, saya tetap memilih berusaha.” ucapnya tegar.

Sejak suaminya meninggal beberapa tahun lalu, hidup memaksa untuk berjalan sendiri, ia telah mencoba beberapa pekerjaan, namun usia dan kesehatan membatasi ruang geraknya.

“Badan sudah tidak sekuat dahulu, jadi saya pilih yang  bisa saya kerjakan pelan-pelan. Goreng kacang, kue semprong, atau belinjo goreng,” ucapnya seraya merapikan jualannya dari tempias hujan.

Diusianya yang tidak muda lagi, Aini mengaku belum menerima bantuan sosial maupun fasilitas kesehatan. “Belum pernah dapat bantuan apa-apa, kalau sakit ya istirahat, mudah-mudahan Allah masih kasih sehat,” ucapnya tanpa nada menyalahkan.

Namun Aini tak menuntut banyak pada hidup. Harapannya sederhana, bahkan nyaris tak terdengar tenggelam ditengah deru mobil yang melintas.

“saya tidak ingin terlalu banyak berharap pada manusia, nanti kecewa. Yang penting cuaca bersahabat, saya selalu sehat, dan masih bisa berjualan,” ucapnya pelan.

Dibawah atap hate yang menahan air hujan, Aini mengajarkan arti martabat dan keteguhan. Tentang bekerja tanpa mengeluh, tentang hidup yang dijalani tanpa menggantungkan diri pada belas kasihan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....