Luka Tak Berdarah, Dampaknya Seumur Hidup pada Anak
- 25 Jan 2026 08:03 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Program Inspirasi Kehidupan RRI Pro 1 Banjarmasin mengangkat tema luka batin keluarga bertajuk “Broken Strings: Ketika Luka Tak Selalu Berdarah, Tapi Membekas Seumur Hidup” pada Sabtu malam, 24 Januari 2026. Dialog tersebut menghadirkan Praktisi Parenting dan Keluarga, Rimalia Karim, yang membahas dampak luka emosional masa kecil terhadap kehidupan dewasa.
Dialog ini menyoroti luka psikologis yang tidak terlihat secara fisik, tetapi memengaruhi cara seseorang membangun hubungan, mempercayai orang lain, dan memandang dirinya sendiri. Tema ini diangkat seiring meningkatnya perhatian masyarakat terhadap kekerasan emosional, relasi manipulatif, dan pola asuh yang kurang sehat.
Rimalia Karim menjelaskan bahwa banyak individu merasa masa kecilnya baik-baik saja, padahal menyimpan pengalaman emosional yang belum pulih. Ia menyebut luka batin kerap muncul dalam bentuk kecemasan, rasa tidak aman, dan ketakutan ditinggalkan ketika seseorang beranjak dewasa.
"Luka emosional anak sering lahir dari hal-hal kecil yang berulang, seperti perasaannya tidak dianggap, tidak ditanggapi dengan empati, sering dibanding-bandingkan, serta kurangnya komunikasi hangat antara orang tua dan anak. Karena itu, orang tua perlu belajar dan memiliki keterampilan dalam mendidik anak,” ucap Rimalia Karim.
Ia menuturkan bahwa luka batin tidak selalu berasal dari kekerasan fisik, tetapi juga dari pengabaian emosi dan pola komunikasi yang merendahkan. Menurutnya, pengalaman tersebut membentuk cara anak menilai dirinya, yang terbawa hingga dewasa dalam pergaulan dan hubungan dengan pasangan.
“Dampaknya bisa terbawa sampai dewasa dan memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri serta memilih hubungan,” ujarnya.
| Baca juga: Momen Evaluasi Diri jelang Tahun Baru Islam |
Dalam dialog itu juga disinggung pembelajaran dari kasus kekerasan dalam relasi yang ramai diperbincangkan publik, termasuk pola manipulatif seperti grooming dan gaslighting, yaitu tindakan membuat korban meragukan perasaan dan pikirannya sendiri. Narasumber mengingatkan bahwa pelaku sering berasal dari orang dekat yang memberi perhatian berlebih untuk membangun ketergantungan emosional.
“Korban sering tidak sadar sedang terluka karena pelakunya orang terdekat yang tampak baik dan perhatian," kata Rimalia.
Rimalia Karim menekankan pentingnya peran orang tua dalam mencegah luka batin melalui komunikasi empatik, menghargai perasaan anak, dan kehadiran emosional dalam keseharian. Ia juga menyarankan orang tua berani meminta maaf kepada anak bila melakukan kesalahan agar anak belajar bahwa hubungan sehat dibangun dari kejujuran emosi.
Keluarga bukan tempat yang bebas dari luka, tetapi ruang terbaik untuk saling memulihkan. Program ini diharapkan mendorong orang tua dan masyarakat lebih peka terhadap kesehatan emosional anak sebagai langkah pencegahan kekerasan psikologis di masa depan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....