Sindiran Pribahasa Banjar Cermin Harmoni Budaya Nusantara
- 16 Agt 2025 18:58 WIB
- Banjarmasin
KBRN, Banjarmasin: Sindiran dalam budaya Banjar memiliki peran penting untuk menjaga keharmonisan sosial. Faisal Embron atau akrab disapa Bang Faisal, menjelaskan, orang Banjar itu lebih suka menyampaikan kritik lewat pribahasa, bukan dengan cara frontal.
"Dengan begitu, orang yang disindir bisa merenung tanpa merasa diserang. Itulah seni komunikasi kita yang khas,” ujarnya, saat Program Ragam Budaya Suluh Banua, Pro 4 RRI Banjarmasin, Sabtu, (9/8/2025)
Ragam Budaya Suluh Banua mengangkat topik Sindiran dalam Istilah Pribahasa Banjar, Part 2 ini menekankan bagaimana pribahasa Banjar tidak hanya menjadi warisan bahasa. Namun juga bagaimana sarana komunikasi halus yang mencerminkan nilai persatuan dalam keberagaman.
Dikatakan, sindiran dalam pribahasa Banjar tidak selalu bermakna negatif. Ada sindiran yang justru mengandung nasihat dan motivasi.
"Seperti ungkapan ‘menyusuri buncu tapih sorang’, yang mengajak kita untuk introspeksi dan memperbaiki diri,” jelasnya.
Sementara itu, Endang seorang guru sekolah dasar menambahkan, sindiran dalam pribahasa Banjar sering dijadikan media pembelajaran di sekolah. “Anak-anak lebih mudah memahami pesan moral kalau disampaikan lewat pribahasa. Misalnya, istilah ‘kacang lupa kulit’ bisa mengingatkan mereka untuk tetap rendah hati meskipun berprestasi,” ujarnya.
Endang menilai, penggunaan pribahasa Banjar dalam bentuk sindiran juga dapat mengajarkan anak-anak tentang pentingnya berkomunikasi santun. Di zaman media sosial ini, kalau kritik disampaikan dengan kasar bisa menimbulkan konflik.
"Tapi dengan pribahasa, pesan bisa sampai tanpa menyakiti,” katanya.
Pribahasa dan sindiran khas Banjar bukan sekadar warisan bahasa. Pribahasa dan sindiran juga sebagai cerminan dari cara orang Banjar menjaga harmoni, persatuan, dan kebijaksanaan dalam kehidupan sehari-hari.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....