​Semarakan Budaya Cinta Sasirangan Bersama Sirang Banua

  • 08 Nov 2024 19:29 WIB
  •  Banjarmasin

KBRN, Banjarmasin: Everlasting Shining Community Project Grants 2024 merupakan program kepemudaan dari WEUS Youth Community dan Indika Foundation yang ditujukan bagi mahasiswa/i di Kota Banjarmasin.
Salah satu kelompok pemuda jebolan dari Program Everlasitng 2024 adalah Sirang Banua.

Kelompok Sirang Banua, Jum'at (8/11/2024) (Foto : dokumentasi Sirang Banua)

Sirang Banua adalah grantee Program Everlasting di bidang pendidikan yang berfokus untuk mempromosikan kebudayaan sasirangan. Sebuah warisan budaya tak benda yang kaya akan sejarah dan nilai artistik.

Melalui dukungan ini, Sirang Banua berkontribusi pada pelestarian dan pengenalan budaya lokal kepada generasi muda, sekaligus meningkatkan kesadaran tentang pentingnya melestarikan warisan budaya.

Peserta menunjukkan kain sasirangan buatannya, Jum'at (8/11/2024) (Foto : dokumentasi Sirang Banua)

Kelompok ini dibentuk oleh 9 orang anggota, yakni Ahmad Ridani (Amuntai), Dimas Ari Muzaqi Putra (Samarinda), Habibah (Kandangan), St Nurlisa (Pelaihari), Tasya Sabrina, M. Fahmi Ilmi, Muhammad Haris Azzein, dan Tiara Karina (Banjarmasin), serta Victor Lumban Gaol (Medan).

M. Fahmi Ilmi menceritakan pengalamannya kepada RRI Banjarmasin, Jum’at (8/11/2024) bahwa pelestarian Sasirangan sebagai salah satu kearifan lokal Kalimantan Selatan perlu dipromosikan oleh pemuda.

“Melalui Sirang Banua, kami memperkenalkan bagaimana membuat kain Sasirangan, beserta dengan motif-motifnya yang sarat akan makna, " ucap Fahmi.

Di kesempatan yang sama Tiara Karina mengatakan, bahwa kegiatan perdana mereka adalah pelatihan membuat kain Sasirangan menggunakan pewarna alami yang ditujukan kepada 20 orang anak panti dari LKSA ‘Aisyiyah Hikmah Zam-zam.

Pelatihan membuat sasirangan Jum'at (8/11/2024) (Foto : dokumentasi Sirang Banua)

Pada kesempatan tersebut, Sirang Banua menghadirkan Ibu Norlina Kamsiah (Gr Saeco) dan Ibu Dian (Lia Sasirangan) selaku pelatih pembuat kain Sasirangan menggunakan pewarna alami.

Peserta pelatihan secara berkelompok belajar tentang makna filosofis dari motif-motif Sasirangan, teknik menjahit atau menjelujur, hingga pencelupan atau mewarna.

Sementara itu Victor Lumban Gaol mengatakan walaupun dirinya bukan berasal dari Suku Banjar, Victor menyatakan bahwa pelatihan membuat kain Sasirangan sangat positif, sebab menjadi ajang untuk memperkenalkan kekayaan budaya Masyarakat Kalimantan Selatan kepada generasi muda.

“Saya pun juga jadi turut belajar, Pelatihan Sasirangan ini semakin menunjukkan bahwa kebudayaan Indonesia itu sangat kaya dan begitu beragam," kata Victor.





Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....