Tradisi Babari Hidupkan Semangat Berbagi di Bulan Ramadan
- 15 Mar 2026 14:26 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin – Program dialog budaya Pandiran Baisukan di RRI Pro4 Banjarmasin, Jumat, 13 Maret 2026, mengangkat tema “Tradisi Babari di Momen Ramadan.” Siaran ini menghadirkan narasumber dosen Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Antasari, Prof. Dr. H. Akhmad Sagir, M.Ag., serta Wulan Afriza, mahasiswi Program Studi Ilmu Hadis.
Dialog tersebut membahas tradisi masyarakat Banjar yang telah lama dikenal, yakni babari atau kebiasaan saling berbagi makanan kepada tetangga, khususnya pada bulan Ramadan. Tradisi ini dinilai sebagai bentuk kebersamaan sekaligus sarana mempererat hubungan sosial di tengah masyarakat.
Prof. Akhmad Sagir menjelaskan bahwa tradisi babari memiliki nilai yang selaras dengan ajaran Islam tentang anjuran saling memberi hadiah. Kebiasaan tersebut diyakini mampu menumbuhkan rasa kasih sayang dan memperkuat hubungan antarsesama.
“Tradisi babari ini sebenarnya sejalan dengan hadis Nabi yang menganjurkan untuk saling memberi hadiah agar tumbuh rasa saling mencintai,” ujarnya. “Di kampung-kampung, orang bisa saling mengantar kue atau makanan ke tetangga, lalu piringnya kembali dengan isi yang berbeda, dan itu yang membuat hubungan antarwarga menjadi lebih dekat.”
Menurutnya, tradisi tersebut juga mencerminkan kesederhanaan masyarakat Banjar yang tetap berbagi meski hidup dalam keterbatasan. Makanan sederhana seperti pisang goreng atau kue tradisional sering dibagikan kepada tetangga sebagai wujud kepedulian.
“Tradisi babari ini sederhana, tetapi maknanya besar karena mengajarkan kita untuk peduli dan berbagi dengan orang di sekitar,” kata Prof. Sagir.
Ia menambahkan bahwa tradisi tersebut penting untuk terus dijaga meski masyarakat kini hidup di tengah perubahan gaya hidup modern yang cenderung individual. Nilai kebersamaan yang terkandung di dalamnya dinilai tetap relevan dalam kehidupan sosial saat ini.
Sementara itu, Wulan Afriza menilai tradisi babari memiliki makna sosial yang kuat dan masih relevan bagi generasi muda. Budaya berbagi seperti ini dinilai mampu mempererat hubungan antarwarga di tengah kehidupan perkotaan yang semakin sibuk.
“Sebagai generasi muda, saya melihat tradisi babari ini sangat positif karena mengajarkan nilai berbagi dan kepedulian,” ujar Wulan. “Walaupun zaman sudah berubah, semangat berbagi kepada tetangga atau sesama tetap bisa dipertahankan.”
Kedua narasumber menegaskan pentingnya menjaga tradisi babari sebagai bagian dari budaya masyarakat Banjar di bulan Ramadan. Tradisi saling berbagi makanan kepada tetangga dinilai bukan sekadar kebiasaan turun-temurun, tetapi juga sarana mempererat hubungan sosial dan menumbuhkan kebersamaan di lingkungan masyarakat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....