Tradisi Banjar Perkuat Pendidikan Karakter Generasi Muda
- 14 Mar 2026 16:45 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Tradisi keagamaan masyarakat Banjar dinilai bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi juga menjadi instrumen penting dalam pembentukan akhlak generasi muda. Pola pendidikan berbasis kearifan lokal dianggap memiliki legitimasi budaya yang lebih kuat dibandingkan pendekatan konvensional.
Akademisi UIN Antasari Banjarmasin, Ustazah Mahmudah, M.Pd., dalam siaran “Nur Ramadan” RRI Pro1 Banjarmasin, Kamis, 12 Maret 2026, menegaskan nilai religiusitas, kejujuran, dan tanggung jawab dapat tertanam secara alami melalui prosesi adat. Menurutnya, keterlibatan langsung pemuda dalam tradisi mampu menciptakan memori kolektif yang positif terhadap ajaran agama.
“Pendidikan karakter dalam Islam fokus pada perilaku nyata,” ujarnya. “Tradisi Banjar seperti majelis taklim dan gotong royong Ramadan merupakan laboratorium sosial bagi anak muda untuk belajar disiplin dan kepedulian.”
Ia menyoroti keunggulan kearifan lokal yang lebih mudah dipahami karena dekat dengan keseharian masyarakat. Tradisi tersebut juga menjadi benteng pertahanan identitas di tengah gempuran budaya global yang semakin masif mengikis nilai-nilai asli daerah.
Baca juga: https://rri.co.id/banjarmasin/ramadan/2263134/tradisi-tanglong-malam-salikur-ajarkan-nilai-sosial
Lebih lanjut, Ustazah Mahmudah menjelaskan sinergi antara pendidikan formal dan informal melalui budaya menjadi kunci penguatan karakter. Tanpa sentuhan budaya, pendidikan karakter berisiko hanya menjadi teori yang sulit diterapkan dalam kehidupan sosial.
Namun, tantangan muncul dari dominasi teknologi digital yang mengubah gaya hidup generasi Z dan milenial. Partisipasi masyarakat dalam kegiatan tradisional cenderung menurun apabila tidak diiringi inovasi dalam pengemasannya.
Sebagai salah satu solusi, ia mendorong penguatan peran tokoh masyarakat dalam menjaga tradisi. Pendokumentasian budaya secara digital juga dinilai penting agar warisan leluhur tetap relevan bagi generasi mendatang.