Tradisi Tanglong Malam Salikur Ajarkan Nilai Sosial
- 14 Mar 2026 13:27 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Fenomena Malam Salikur dan tradisi Tanglong di Kalimantan Selatan dinilai menjadi sarana efektif dalam mentransformasikan nilai tanggung jawab sosial kepada generasi muda. Tradisi menyambut malam ke-21 Ramadan ini memadukan kreativitas seni dengan penguatan spiritualitas.
Ustazah Mahmudah, M.Pd.I., dalam siaran “Nur Ramadan” RRI Pro1 Banjarmasin, Kamis, 12 Maret 2026, menyatakan proses pembuatan lampion atau Tanglong oleh remaja masjid menjadi ruang pembelajaran kerja sama yang nyata. Di dalamnya terkandung nilai gotong royong yang tidak selalu ditemukan dalam pendidikan yang bersifat tekstual.
“Malam Salikur adalah penanda peningkatan ibadah,” ujarnya. “Saat anak muda berkumpul menghias kampung dengan Tanglong, mereka sebenarnya sedang belajar menjaga harmoni sekaligus mempertahankan eksistensi budaya religius.”
Penyalaan lampu hias tersebut disimbolkan sebagai semangat menerangi sepuluh malam terakhir Ramadan dengan ibadah. Kreativitas dalam merancang bentuk Tanglong juga dinilai sebagai upaya pengembangan potensi diri yang bernafaskan nilai-nilai Islam.
Ustazah Mahmudah mengingatkan tradisi ini menghadapi ancaman kepunahan akibat perubahan gaya hidup masyarakat perkotaan. Jika keterlibatan generasi muda berkurang, fungsi Malam Salikur sebagai media pendidikan karakter dikhawatirkan akan terhenti.
Karena itu, ia mengusulkan agar pemerintah daerah dan lembaga pendidikan mengintegrasikan budaya lokal tersebut ke dalam kurikulum maupun festival rutin. Digitalisasi konten tradisi juga dinilai penting agar mampu bersaing dengan konten global di media sosial.
Pelestarian tradisi disebut sebagai investasi jangka panjang untuk membentuk individu yang cerdas secara intelektual sekaligus kuat secara mentalitas budaya. Identitas lokal Banjar dinilai harus tetap menjadi fondasi utama dalam pembangunan karakter masyarakat.