Malam Salikur, Tradisi Ramadan Masyarakat Banjar

  • 10 Mar 2026 07:11 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin – Malam Salikur merupakan salah satu tradisi masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan yang dilaksanakan saat bulan Ramadan. Tradisi ini digelar pada malam ke-21 Ramadan sebagai penanda dimulainya sepuluh malam terakhir yang diyakini penuh keberkahan.

Hal tersebut disampaikan oleh Iberahim, S.H., Naily Khairina, dan Muhammad Rafi dalam acara Suluh Banua di RRI Pro4 Banjarmasin, Minggu, 8 Maret 2026. Mereka menjelaskan bahwa tradisi Malam Salikur menjadi bagian dari perpaduan nilai religi dan budaya di masyarakat Banjar.

Menurut Iberahim, tradisi serupa juga dijumpai di sejumlah daerah lain di Indonesia. Jika di Jawa dikenal dengan sebutan Malem Selikur, masyarakat Banjar menyebutnya Malam Salikur.

Ia mengatakan, tradisi ini biasanya ditandai dengan pemasangan lampu-lampu hias atau tanglong sebagai penerangan di sekitar rumah dan tempat ibadah. Selain menambah keindahan suasana, tradisi tersebut juga menjadi pengingat untuk meningkatkan ibadah kepada Allah Swt.

“Malam Salikur berarti malam ke-21 Ramadan yang menjadi perpaduan nilai religi dan budaya,” ujarnya. “Suasananya terasa lebih gembira sekaligus menambah semangat menyambut malam-malam istimewa yang diyakini sebagai waktu turunnya Lailatul Qadar.”

Sementara itu, Naily Khairina dan Muhammad Rafi yang tergabung dalam Ikatan Mahasiswa Banjarmasin menyampaikan bahwa tradisi Malam Salikur telah berlangsung turun-temurun di Kalimantan Selatan. Tradisi ini juga menjadi sarana mempererat kebersamaan serta ukhuwah antarwarga.

“Selain tanglong, lampion atau lampu warna-warni juga menghiasi tempat ibadah, rumah warga, hingga jalanan. Suasananya terasa lebih meriah,” ujar Naily.

Muhammad Rafi menambahkan, Malam Salikur menjadi pengingat bagi umat Muslim untuk memperbanyak ibadah pada sepuluh malam terakhir Ramadan. Selain menghias lingkungan, masyarakat biasanya juga menggelar festival tanglong maupun kegiatan keagamaan lainnya.

“Biasanya juga diisi dengan i’tikaf di masjid, berdoa, dan tadarus Al-Qur’an. Sering kali dilakukan hingga menjelang waktu sahur,” ujar Rafi.

Tradisi Malam Salikur bukan sekadar perayaan, tetapi juga menjadi sarana syiar Islam di bulan Ramadan. Sebagai bagian dari generasi muda, ia berharap tradisi tersebut dapat terus dijaga agar tetap menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....