Tradisi Ramadan Urang Banjar yang Selalu Dirindukan
- 02 Mar 2026 21:25 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin – Pasar Wadai adalah salah satu tradisi paling fenomenal yang hanya hadir saat bulan puasa. Di pasar wadai masyarakat dapat membeli aneka kue dan masakan khas Banjar, maupun nusantara untuk berbuka puasa.
"Masyarakat dapat mencari wadai 41 macam, dari bingka sampai amparan tatak. Suasananya berbeda dan selalu dirindukan,” ujar Faisal Embron dalam Suluh Banua Pro 4 RRI Banjarmasin, 1 Maret 2026.
Suluh Banua mengangkat topik “Tradisi Ramadan Urang Banjar”. Materi yang dibahas terkait tradisi khas masyarakat Banjar saat Ramadan.
Dikatakan, tradisi megang atau menyambut malam pertama Ramadan dengan hidangan istimewa bersama keluarga. Sementara itu, Ibrahim mengatakan, tradisi badadamar atau menyalakan lampu colok di depan rumah pada malam-malam ganjil menjadi bentuk simbolik menyambut Lailatulqadar.
Tak hanya soal kuliner dan ritual, diskusi juga menyinggung sejarah perjuangan di Banua. Ibrahim mengungkapkan bahwa sejumlah peristiwa penting seperti Perang Banjar terjadi pada bulan Ramadan.
“Bulan puasa dianggap bulan penuh keberkahan dan doa mustajab, sehingga menjadi momentum perjuangan melawan penjajah,” ujarnya.
Generasi muda pun turut berbagi pandangan. Mardati menceritakan suasana Ramadan di Amuntai. Di Smuntai identik dengan tanglong, pawai lampion dan hiasan bernuansa Islami di sepanjang jalan desa.
“Dulu habis buka kami main petasan, ke masjid ramai-ramai. Sekarang anak-anak lebih banyak pegang gawai,” katanya.
Sementara itu Sadila Nur Aprilia menambahkan, meski zaman berubah, semangat berbagi tetap terasa di kalangan mahasiswa. Misalnya melalui kegiatan bagi-bagi takjil dan sahur on the road di Kota Banjarmasin.
Menurutnya, aktivitas tersebut bukan sekadar mengikuti tren, tetapi menjadi ruang pembelajaran sosial bagi generasi muda untuk menumbuhkan empati dan kepedulian. “Ramadan itu momen terbaik untuk melatih kepekaan. Lewat kegiatan sederhana seperti berbagi takjil, kita belajar memahami arti kebersamaan,” ujarnya.
Ia juga menilai, perkembangan teknologi tidak selalu berdampak negatif jika dimanfaatkan dengan bijak. Media sosial, kata Sadila, justru bisa menjadi sarana efektif untuk memperkenalkan kembali tradisi Ramadan Urang Banjar kepada generasi muda agar tetap lestari di tengah arus modernisasi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....