Maknai Ramadan dengan Introspeksi dan Ibadah Berkualitas
- 28 Feb 2026 10:09 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin – Rasulullah saw mengajarkan umatnya untuk senantiasa berdoa agar dipertemukan dengan bulan suci Ramadan. Hal ini disampaikan Ustaz Taufiqurrahman, S.Th.I., M.Pd., dalam acara Hikmah Subuh RRI Pro4 Banjarmasin, Sabtu, 28 Februari 2026.
Ia menjelaskan, Ramadan terbagi menjadi tiga fase sebagaimana diriwayatkan dalam hadis Abu Hurairah ra. Sepuluh hari pertama dipenuhi rahmat Allah Swt, sepuluh hari kedua dipenuhi ampunan-Nya, dan sepuluh hari terakhir menjadi masa pembebasan dari api neraka.
| Baca juga: Zakat Fitrah Sempurnakan Puasa Ramadan |
“Ada orang yang bertemu dengan bulan Ramadan, tetapi ketika bulan suci ini berlalu tidak satu pun dosanya diampuni,” ujarnya. “Karena Ramadan adalah masa ketika Allah mengobral rahmat dan ampunan sebanyak-banyaknya.”
Menurutnya, umat Islam harus senantiasa melakukan introspeksi diri selama bulan Ramadan. Dengan begitu, Ramadan tidak berlalu begitu saja, melainkan menjadi bulan yang penuh makna dan rahmat bagi kehidupan dunia dan akhirat.
Ustaz Taufiqurrahman juga menyinggung polemik pro dan kontra terkait jumlah rakaat dalam salat tarawih. Ia menegaskan bahwa perbedaan tersebut akan selalu ada dan tidak perlu disikapi dengan saling menghakimi, melainkan difokuskan pada apakah tarawih yang dilaksanakan benar-benar dijalankan dengan penuh makna dan kekhusyukan.
“Ada istilah tarawih kilat yang ramai dibahas, bahkan di Timur Tengah,” ucapnya. “Padahal tarawih sendiri bermakna santai atau istirahat, jadi jangan sampai ibadah ini justru dilakukan dengan tergesa-gesa tanpa makna.”
Menjelang waktu berbuka, ia juga mengingatkan agar umat Islam tidak hanya disibukkan dengan “ngabuburit” atau menentukan menu berbuka. Waktu tersebut sebaiknya dimanfaatkan untuk memperbanyak doa dan memohon ampunan kepada Allah Swt.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....