Waspada Zat Berbahaya di Jajajan Pasar Wadai, Dinkes Banjarmasin Lakukan Sidak!

  • 24 Feb 2026 12:55 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin – Aroma manis dan gurih jajanan di Festival Pasar Wadai Ramadan di kawasan siring Nol Kilometer Banjarmasin bercampur ketegangan. Tim Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Banjarmasin turun langsung melakukan pengambilan sampel makanan dan minuman yang dijual pedagang, untuk memastikan jajanan yang diburu warga benar-benar aman dikonsumsi.

Dalam kegiatan tersebut, petugas mengambil 10 sampel pangan yang terdiri dari kue basah, mie habang, gulali, bakso goreng, manisan buah, serta berbagai jenis minuman es berwarna mencolok. Sampel itu kemudian diuji untuk memastikan tidak adanya kandungan zat berbahaya seperti boraks, pewarna tekstil, maupun penggunaan pemanis buatan yang tidak sesuai ketentuan.

Ketua Tim Pokja Kesehatan Lingkungan Kerja dan Olahraga Dinkes Banjarmasin, Umi Kalsum menyampaikan, momen Ramadan sering dimanfaatkan pedagang untuk meningkatkan produksi secara besar-besaran. Dalam situasi itu, potensi penyalahgunaan bahan tambahan pangan kerap menjadi celah yang harus diantisipasi.

“Hasilnya negatif bahan berbahaya. Kami ingin memastikan makanan dan minuman yang beredar di Pasar Wadai benar-benar aman. Jangan sampai ada penggunaan bahan berbahaya yang bisa membahayakan kesehatan masyarakat,” katanya, Selasa, 24 Februari 2026.

“Kami tidak ingin kecolongan. Pemeriksaan ini sebagai langkah pencegahan. Kalau ditemukan kandungan berbahaya, tentu akan ada tindak lanjut sesuai aturan,” ujar Umi menambahkan.

Festival Pasar Wadai Ramadan sendiri menjadi magnet tahunan warga Banjarmasin untuk berburu takjil dan aneka kuliner khas yang muncul setiap bulan suci. Namun di balik kemeriahan itu, aspek keamanan pangan menjadi sorotan serius.

Beberapa jenis jajanan seperti mie habang dan bakso goreng kerap menjadi perhatian karena rawan disalahgunakan dengan tambahan boraks agar teksturnya lebih kenyal dan tahan lama. Sementara minuman es berwarna cerah juga berpotensi mengandung pewarna non-pangan jika tidak diawasi.

“Masyarakat juga harus cerdas. Perhatikan warna yang terlalu mencolok, tekstur yang tidak wajar, atau rasa yang aneh,” ucap Umi, mengimbau.

“Itu bisa menjadi tanda adanya bahan tambahan yang tidak semestinya,” ujarnya, mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....