Pasca Berbuka, Puisi Lahir dari Ruang Sunyi Ramadan

  • 20 Feb 2026 06:54 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Suasana bulan suci Ramadan tidak hanya menghadirkan ritual menahan lapar dan dahaga, tetapi juga membuka ruang batin hening dan reflektif. Momentum pasca berbuka puasa kerap menjadi waktu yang spesial bukan sekedar menyangkut perut, melainkan juga mengenyangkan jiwa. Dari ruang sunyi itulah, puisi-puisi jujur penuh makna sering lahir.

Hal tersebut mengemuka dalam program Ruang Sastra di RRI Pro4 Banjarmasin, Kamis 19 Februari 2026, yang mengangkat tema "Pasca Berbuka Puisi". Menghadirkan dua narasumber, Rasyid Zaki dan Alvian Ali, dialog ini mengajak pendengar menyelami Ramadan melalui kata-kata yang tumbuh dari pengalaman spritual.

Rasyid mengatakan bahwa ada yang berbeda setelah azan Magrib berkumandang. Setelah tegukan pertama air dan manisnya kurma menyentuh lidah, ada jeda. Ada tenang. Ada syukur. Dan di sela-sela itulah, sering kali lahir kata-kata yang tak biasa.

"Momen pasca berbuka sering menjadi ruang personal yang hening. Di situ kadang rindu datang,” ucapnya.

Ia menilai suasana tersebut kerap menjadi ladang puisi, terutama ketika Ramadan mengingatkannya pada pengalaman tahun lalu, saat harus berbuka jauh dari keluarga.

Puisi berjudul “Pasca Berbuka Puisi” yang dibacakannya lahir dari pengalaman tersebut. Meski tema acara disebutnya terinspirasi secara tidak sengaja karena bertepatan dengan bulan Ramadan, isi puisinya justru berangkat dari kerinduan sederhana.

" ingin kembali berbuka di rumah, bersama keluarga. Rrasa syukur dan rindu justru terasa utuh setelah lapar itu selesai.” ucapnya.

Berbeda nuansa, Alvian membacakan puisi berjudul “Menyambut Bulan Ramadan”. Karyanya terinspirasi dari kesucian Ramadan, rasa syukur, serta kerinduan akan suasana ibadah yang khusyuk.

Keduanya sepakat bahwa menahan diri seharian menghadirkan kejujuran rasa. “Sebelum berbuka kita sibuk menunggu azan, setelah berbuka kita seperti menghitung ulang diri sendiri,” ujar Alvian.

Apakah puisi lebih kuat lahir dari penderitaan atau dari rasa cukup? Rasyid menilai keduanya bisa menjadi sumber, asalkan ditulis dengan jujur. Sementara Alvian menambahkan, suasana spiritual Ramadan sering menghadirkan kedalaman tersendiri dalam karya sastra.

Ramadan dalam setiap momen menyimpan kemungkinan lahirnya kata-kata yang sederhana, namun penuh makna. Rasyid menyebut pasca berbuka puisi sebagai nikmat dari ruang pulang bagi rasa yang seharian ditahan. Sementara Alvian memaknainya sebagai keterangan dengan jeda syukur sebelum kembali menjadi manusia yang lebih sabar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....