Ramadan Momentum Menata Jiwa dan Diri

  • 15 Feb 2026 16:13 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin – Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan haus, melainkan momentum menata kembali jiwa dan kualitas diri agar menghadirkan perubahan bermakna dalam kehidupan. Hal itu disampaikan Praktisi Parenting dan Keluarga, Rimalia Karim, dalam program Inspirasi Kehidupan di RRI Pro1 Banjarmasin, Sabtu, 14 Februari 2026.

Rimalia menyoroti masyarakat kerap sibuk menyiapkan menu sahur, pakaian baru, hingga agenda buka bersama, tetapi jarang mengevaluasi kesiapan hati menyambut Ramadan. Ia menegaskan tantangan era digital seperti distraksi gawai, emosi tidak stabil, tekanan ekonomi, dan konflik keluarga menjadi ujian batin yang perlu disadari sejak awal.

“Ramadan bukan hanya ibadah ritual,” kata Rimalia. “Ramadan adalah momentum untuk menata kembali jiwa dan meningkatkan kualitas diri.”

Menurutnya, makna membersihkan hati sejalan dengan hadis Nabi Muhammad saw yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim tentang segumpal daging yang menentukan baik buruknya manusia, yakni hati. Ia menjelaskan penyakit hati seperti iri, dengki, dan sulit memaafkan perlu disadari serta diperbaiki dengan kejujuran batin, bukan sekadar formalitas saling meminta maaf menjelang Ramadan.

Rimalia juga mengutip kisah seorang sahabat Nabi Muhammad saw yang dikenal sebagai ahli surga karena kebiasaannya memaafkan orang lain sebelum tidur. Ia menilai kebiasaan memaafkan secara konsisten dapat mencegah penumpukan dendam yang berdampak pada ketenangan jiwa dan kualitas relasi sosial.

Ia mengingatkan orang tua agar menjadi teladan dalam membangun suasana Ramadan di rumah melalui ucapan, sikap, dan kebiasaan sehari-hari. Menurutnya, komunikasi yang positif dan penuh kesadaran akan membentuk karakter anak secara alami tanpa tekanan berlebihan.

“Allah hanya ingin kita menghadap-Nya dengan hati yang salim,” ujar Rimalia. “Hati yang bersih itulah yang menjadi bekal terbaik seorang hamba.”

Rimalia menambahkan stres menjelang Ramadan kerap muncul akibat tekanan sosial dan kecemasan finansial berlebihan. Ia mengajak masyarakat membedakan kebutuhan dan keinginan, melatih pengendalian emosi, serta menjadikan Ramadan sebagai kesempatan memperbaiki diri agar 11 bulan setelahnya tetap membawa perubahan yang lebih baik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....