Menelusuri Tradisi Jawa dalam Menyambut Ramadan
- 12 Feb 2026 16:12 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin – Masyarakat Jawa memiliki sejumlah tradisi yang dilakukan untuk menyambut bulan Ramadan. Hal tersebut disampaikan Akademisi UIN Antasari, Trining Puji Astutik, S.Si., S.Pd., M.Pd., dalam program Ragam Budaya Sambung Roso, Rabu, 11 Februari 2026.
Trining menjelaskan, salah satu tradisi yang masih dijalankan adalah nyekar atau ziarah ke makam orang tua maupun leluhur. Tradisi ini menjadi momen untuk mengirimkan doa, sekaligus sebagai bentuk penghormatan dan permohonan maaf kepada keluarga yang telah wafat.
Selain nyekar, terdapat pula tradisi megengan yang dilakukan menjelang Ramadan. Dalam tradisi ini, masyarakat membawa makanan ke masjid atau musala untuk didoakan, kemudian dibagikan kepada jemaah.
“Biasanya makanan yang dibawa ke masjid atau langgar adalah kue apem,” ujar Trining. “Setelah saya telusuri, apem berasal dari kata ‘afwan’ yang berarti maaf, sehingga menjadi simbol silaturahmi dan permohonan maaf.”
| Baca juga: Program MBG Ramadan Disambut Gembira Siswa |
Menurutnya, apem biasanya dibuat dalam jumlah besar untuk dibagikan kepada jemaah masjid, tetangga, dan kerabat dekat. Tradisi ini menjadi sarana mempererat hubungan sosial sebelum memasuki bulan suci.
Ia menekankan bahwa silaturahmi merupakan momen berharga yang perlu dimanfaatkan dengan kehadiran lahir dan batin. Pasalnya, tidak mudah menyatukan banyak orang dalam satu kesempatan, dan belum tentu momen serupa dapat terulang di masa mendatang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....