Pakai Metode Baru, Muhammadiyah Tetapkan Puasa 18 Februari
- 03 Feb 2026 10:08 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin – Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kalimantan Selatan resmi menetapkan awal puasa Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026. Penetapan ini mengikuti keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang untuk pertama kalinya menggunakan metode Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).
Dengan keputusan tersebut, salat tarawih perdana akan dilaksanakan pada Selasa malam, 17 Februari 2026. Penetapan ini sekaligus menandai babak baru dalam metode penentuan kalender Islam yang digunakan Muhammadiyah.
Ketua PW Muhammadiyah Kalimantan Selatan, Ridhani Fidzi, menegaskan bahwa keputusan tersebut bersifat final dan mengikat bagi seluruh warga Muhammadiyah. Yang menarik, tahun ini Muhammadiyah tidak lagi menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal, tapi mengadopsi Kalender Hijriah Global Tunggal yang bertujuan menyatukan penetapan tanggal Hijriah secara global.
“PP Muhammadiyah sudah menetapkan dan membuat surat keputusan bahwa 1 Ramadhan jatuh pada hari Rabu, tanggal 18 Februari. Artinya, Selasa malam kita sudah melaksanakan tarawih,” kata Ridhani.
“Muhammadiyah mulai tahun ini menggunakan metode Kalender Hijriah Global Tunggal dan metode ini sudah dilaunching di Yogyakarta," ujarnya.
Menurut Ridhani, metode KHGT dirancang untuk mengakhiri perbedaan penetapan awal bulan yang selama ini kerap terjadi antarwilayah, bahkan antarnegara. Tak hanya Ramadan, Muhammadiyah juga telah menetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah atau Hari Raya Idulfitri jatuh pada 20 Maret 2026 mendatang.
“Dengan KHGT ini, Muhammadiyah memprakarsai satu hari satu tanggal yang sama di seluruh dunia,” ucapnya.
“Kalau dulu dengan hisab hakiki wujudul hilal bisa terjadi selisih hari di beberapa daerah. Sekarang perbedaannya paling hanya beberapa jam, tapi harinya tetap sama," katanya.
Meski demikian, Ridhani mengingatkan agar perbedaan penetapan awal Ramadan jika nantinya terjadi dengan keputusan pemerintah tidak menjadi sumber perpecahan di tengah masyarakat. Ia berharap, perbedaan itu nantinya harus disikapi dengan arif dan saling menghargai.
“Kami mengajak seluruh warga Muhammadiyah, khususnya di Kalimantan Selatan, untuk menyemarakkan Ramadan,” ujarnya.
“Kalau ada perbedaan dengan pemerintah, itu harus disikapi dengan arif dan saling menghargai," ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....