Meski Tak Bisa Berenang, Sopian Sopir Ekspedisi Selamat dari Maut KM Virgo 8

  • 18 Sep 2026 16:11 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Mimik wajah Sopian seketika berubah saat mulai memutar kembali ingatan kelam di perairan Laut Jawa. Sopir ekspedisi asal Bitung, Sulawesi Utara ini menjadi salah satu korban selamat dalam musibah tenggelamnya KM Virgo Transport 8 pada Minggu lalu, 13 September 2026.

Di tengah kondisi psikis yang terguncang, Sopian mengingat jelas detik-detik saat kapal mulai miring hingga akhirnya terbalik. Jeritan ketakutan ratusan penumpang bersahutan memecah malam kelam itu.

Sopian menaruh keprihatinan mendalam pada nasib para penumpang yang berada di ruang VIP saat kapal mulai hilang keseimbangan. Menurutnya, akses pintu ruang VIP yang terbatas diduga menyulitkan para penumpang untuk menyelamatkan diri keluar ruangan.

"Ruang VIP itu kan memiliki akses khusus, masuknya pakai kartu. Ada kemungkinan para penumpang kesulitan keluar," ujarnya saat ditemui di Hotel Kharisma, Kamis, 17 September 2026.

Malam mencekam itu berlangsung sangat cepat ketika aliran listrik di atas kapal mendadak padam total. Suasana gelap gulita seketika menyelimuti seluruh bagian kapal di tengah kepanikan penumpang yang berusaha menyelamatkan diri.

Sopian yang menyadari dirinya sama sekali tidak bisa berenang, bergerak meraba dalam gelap. Ketakutan luar biasa menghantuinya sehingga ia berusaha sekuat tenaga memegang erat bagian dek kapal yang dekat dengan bagian musala agar tidak terlempar ke laut.

"Kita cuma berpegangan di pagarnya saja. Sampai akhirnya kapal benar-benar terbalik," katanya mengenang.

Saat badan kapal benar-benar terbalik, pegangan tangan Sopian terlepas hingga ia jatuh tergulung derasnya arus laut. Beruntung, takdir masih berpihak padanya ketika ia berhasil meraih sebuah ban pelampung yang melintas.

Sopian bertahan berjam-jam mengapung di tengah lautan dengan memeluk erat ban pelampung tersebut. Harapan hidupnya kembali terbuka saat sebuah perahu karet penyelamat berisi sekitar 11 orang berhasil menemukannya.

Namun, pengalaman mengerikan tidak berhenti di situ ketika perahu karet yang ia dan korban lainnya tumpangi menemukan sosok tubuh yang terbawa arus. Para korban sempat berupaya menarik tubuh tersebut, tetapi langsung tersentak saat menyadari kondisi jasad yang sudah tidak utuh lagi.

"Ditariklah sama orang NTT ini. Ternyata separuhnya sudah tidak ada," kata Sopian menjelaskan.

Guncangan emosional akibat pemandangan mengerikan itu membuat mereka pasrah dan tak sanggup mengangkat jasad tersebut. Pengalaman traumatik malam itu meninggalkan luka mendalam bagi Sopian yang sudah puluhan tahun terbiasa menyeberangi lautan.

Kini, Sopian bersama sejumlah korban selamat lainnya bersiap meninggalkan Banjarmasin untuk kembali ke kampung halaman pada Jumat, 18 September 2026. Matanya seketika berkaca-kaca dan suaranya terdengar lirih saat menyebut sosok yang paling ingin ia temui, sang istri.

Saat ditanya apa rencana selanjutnya, ia mengungkapkan ingin rehat sejenak dari pekerjaan yang telah ia tekuni bertahun-tahun demi memulihkan traumanya. Momen keselamatan ini ia maknai sebagai kesempatan hidup kedua untuk membenahi diri dan berkumpul bersama keluarga.

"Kalau untuk menyeberang lagi, mungkin trauma saya belum hilang. Jadi rehat dulu saja," katanya lirih.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....