Peran Pemuda Laung Kuning Banjar dalam Pelestarian Budaya

  • 01 Nov 2025 12:27 WIB
  •  Banjarmasin

KBRN, Banjarmasin: Semangat pemuda di berbagai daerah untuk melestarikan budaya lokal semakin meningkat. Itulah apresiasi pendengar Pro4 RRI Banjarmasin dari berbabgai kota, seperti Lampung, Palu dan Mauluku Utara.

Siaran berlangsung hangat dengan sapaan khas antar daerah dan pantun-pantun ringan dari para pendengar. Siaran berjaringan Budaya Nusantara Pro4 RRI Jakarta, Jumat (31/10/2025) memberikan giliran mengangkat topik menarik “Peran Pemuda Laung Kuning Banjar) dalam Pelestarian Budaya.”

Dipandu Elly Ermawati dari Pro4 RRI Banjarmasin dan Jo Aditya dari Pro4 RRI Jakarta. siaran ini berlangsung selama satu jam Pendengar dari berbagai daerah turut serta memberikan pandangan dan pertanyaan seputar peran generasi muda dalam menjaga budaya lokal, khususnya budaya Banjar.

Ketua Laung Kuning Banjar Kota Banjarmasin Irsa Setiawan Husaini, menjelaskan bahwa Laung Kuning Banjar merupakan organisasi kemasyarakatan. Fokusnya pada kegiatan kesenian, adat istiadat, dan kebudayaan masyarakat Banjar.

“Laung Kuning Banjar berdiri sejak Februari 2024 di Kalimantan Timur dan kini telah memiliki anggota hampir 12.000 orang di seluruh kabupaten dan kota di Kalimantan,” katanya.

Dikatakan, semangat utama organisasi ini adalah mengangkat harkat dan martabat orang Banjar melalui pelestarian budaya dan seni tradisi. Laung Kuning Banjar berfungsi sebagai wadah masyarakat Banjar yang memiliki keturunan dan riwayat kesenian khas daerahnya, seperti Balamut, Madihin, dan Kuntau.

“Kami ingin anak muda Banjar tidak hanya tahu nama keseniannya, tapi juga memahami nilai filosofis dan sejarahnya. Belajar budaya bukan sekadar latihan seni, tapi juga menelusuri jati diri,” ujarnya.

Menurutnya, regenerasi budaya hanya bisa berjalan jika pemuda merasa memiliki dan bangga terhadap identitas Banjar. Keanggotaan Laung Kuning Banjar terbuka bagi siapa pun yang berkomitmen melestarikan budaya Banjar, meskipun tidak berasal dari garis keturunan langsung.

“Budaya itu inklusif. Siapa pun yang mencintai dan mau menjaga budaya Banjar bisa menjadi bagian dari kami. Karena pelestarian budaya bukan soal darah, tapi soal rasa dan tindakan,” ucapnya, menutup perbincangan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....