Nasionalisme Sebagai Bentuk Kebanggaan dan Cinta Tanah Air
- 23 Jul 2025 07:33 WIB
- Banjarmasin
KBRN, Banjarmasin: Dalam perbincangan tersebut, nasionalisme didefinisikan sebagai bentuk cinta dan kebanggaan terhadap tanah air. Dalam konteks masyarakat Banjar tidak terlepas dari nilai-nilai religius, khususnya Islam.
“Cinta tanah air adalah bagian dari iman, mengutip prinsip yang menautkan nasionalisme dengan keimanan," ujar Muhammad Ramli Jauhari, Sekjen GP Ansor Wilayah Kalimantan Selatan, dalam Siaran Pandiran Baisukan, Selasa (22/72025).
Pandiran bertema Nasionalisme Progresif: Berdaya, Berkarya, Bergaya bersama komunitas Laung Kuning Banjar (LKB) juga menyinggung warisan patriotik masyarakat Banjar. Termasuk keterlibatan dalam Perang Banjar dan Proklamasi 17 Mei 1949 sebagai simbol perjuangan lokal dalam kerangka nasional.
Obrolan ini menyoroti pentingnya menanamkan semangat kebangsaan yang dinamis di tengah arus zaman yang terus berubah. Konsep nasionalisme progresif dijabarkan sebagai proses aktif dan berkelanjutan dalam mengisi kemerdekaan dengan karya nyata.
"Nasionalisme tidak cukup berhenti pada simbol dan seremoni, namun harus diwujudkan dalam kontribusi di berbagai sektor, seperti ekonomi, pendidikan, sosial, dan budaya. “Kemerdekaan bukan hanya untuk dirayakan, tapi untuk diisi dengan kerja keras dan dedikasi,” ujar Ketua LKB DPC Banjarbaru Abdul Haris.
Tak ketinggalan, tantangan modern yang dihadapi generasi muda turut menjadi sorotan. Keduanya menyoroti dampak media sosial dalam membentuk persepsi kebangsaan yang dangkal dan instan.
"Nasionalisme sejati, harus menjadi semangat yang dipraktikkan setiap hari. Jangan sampai kita hanya mencintai Indonesia saat upacara, tapi lupa bersikap cinta tanah air dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Ramli Jauhari.
Slogan Berdaya, Berkarya, Bergaya dipaparkan sebagai semangat baru dalam mengekspresikan nasionalisme secara relevan di era modern. Berdaya berarti memiliki kekuatan dan kapasitas.
"Berkarya adalah produktivitas nyata, dan bergaya adalah kebanggaan menampilkan identitas budaya dalam kehidupan. Konsep ini diharapkan menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk mencintai bangsa secara aktif, kreatif, dan berkepribadian," ucapnya..
Abdul Haris mengingatkan pemuda untuk tidak terjebak dalam citra semu dan permukaan, melainkan mencintai bangsa dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Nasionalisme progresif yang ditawarkan bukan nostalgia, melainkan ajakan untuk terus tumbuh bersama bangsa.
“Mari kita rawat Indonesia dengan hati, sejarah, dan aksi," ujar Abdul Haris, menegaskan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....