Umbi Yakon, Si Manis Renyah dari Andes Kini Dibudidayakan di Dieng
- 16 Jun 2026 16:24 WIB
- Banjarmasin
RRI CO.ID, Banjarmasin – Sekilas tampak seperti ubi jalar, namun siapa sangka umbi bertekstur renyah dan bercita rasa manis ini justru memiliki hubungan kekerabatan dengan bunga matahari dan krisan. Inilah umbi yakon, tanaman unik yang mulai dikenal luas karena bisa dikonsumsi langsung seperti buah sekaligus memiliki potensi manfaat bagi kesehatan.
Umbi yakon atau dikenal dengan nama ilmiah Smallanthus sonchifolius berasal dari kawasan Pegunungan Andes, Amerika Selatan. Tanaman yang termasuk famili Asteraceae atau suku kenikir-kenikiran ini tumbuh baik di daerah dataran tinggi dengan kondisi tanah berpasir pada ketinggian sekitar 1.000 hingga 2.300 meter di atas permukaan laut.
Dikutip dari NusantaraFood Biodiversity, saat ini umbi yakon sudah mulai dibudidayakan di Indonesia, salah satunya di kawasan dataran tinggi Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah. Kondisi iklim pegunungan yang sejuk dinilai sesuai untuk pertumbuhan tanaman asal Amerika Selatan tersebut.
Tanaman yakon memiliki ciri khas berupa daun dan batang dengan bulu halus seperti beludru serta bunga kecil berwarna kuning yang sekilas menyerupai bunga matahari. Bagian yang banyak dimanfaatkan adalah umbinya, yang memiliki kandungan air cukup tinggi dengan rasa manis alami.
Berbeda dari umbi kebanyakan, yakon dapat dikonsumsi tanpa harus melalui proses perebusan. Teksturnya renyah dan berair dengan sensasi segar seperti buah apel, pir, maupun bengkoang.
Dinda, seorang karyawan rumah makan di Banjarmasin yang ditemui pada Selasa siang, 16 Juni 2026 mengatakan pertama kali mencoba umbi yakon setelah mendapatkannya dari temannya Fitrah. Dirinya mengaku awalnya terkejut karena mengira harus dimasak terlebih dahulu.
“Awalnya kaget, ternyata bisa langsung dimakan tanpa direbus. Rasanya manis, banyak airnya, renyah seperti buah pir atau bengkoang. Segar sekali,” ujar Dinda.
Selain memiliki cita rasa yang unik, umbi yakon juga menarik perhatian karena mengandung nutrisi serta memiliki indeks glikemik yang rendah. Meski memiliki rasa manis, konsumsi yakon dalam batas wajar disebut tidak menyebabkan lonjakan gula darah secara cepat.
Kini, budidaya umbi yakon mulai berkembang di sejumlah negara tropis termasuk Indonesia. Kehadirannya menjadi salah satu contoh kekayaan pangan alternatif yang memperkenalkan tanaman dunia kepada masyarakat lokal, sekaligus membuka peluang pengembangan komoditas baru dari sektor pertanian.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....