Denting Mangkok dan Jejak Panjang Mas Joko Menjaga Asa
- 19 Mei 2026 15:15 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Denting mangkok yang dipukul pelan dengan sendok menjadi penanda kehadirannya. Suara sederhana itu memecah lorong-lorong sempit Kota Banjarmasin, menyelinap di antara deru kendaraan dan hiruk pikuk kota yang terus bergerak. Dari suara itulah, orang-orang mengenal Sukiman atau lebih dikenal dengan Mas Joko, penjual bakso keliling yang setia menyusuri jalanan sejak tahun 1981.
Di usianya yang kini menginjak 58 tahun, langkah Mas Joko masih teguh mendorong gerobak baksonya. Wajahnya mungkin mulai dipenuhi garis usia, tetapi semangatnya tetap menyala seperti bara yang tak pernah padam diterpa hujan maupun panas.
Semua bermula dari sebuah mimpi sederhana. Berbekal tabungan hasil berjualan es tong-tong dan lingkungan tempat tinggalnya di Gang Kenari, kawasan Veteran Banjarmasin yang dipenuhi penjual bakso, Mas Joko belajar meracik bakso secara otodidak. Tidak ada sekolah bisnis, tidak ada kursus memasak. Gang kecil tempat ia tinggal menjadi “universitas kehidupan” yang mengajarinya tentang rasa, ketekunan, dan harapan.
“Pertama jualan bakso dulu masih pakai pikulan. Tabungan belum cukup untuk beli gerobak dorong,” kenangnya sambil tersenyum tipis. Selasa, 19 Mei 2026.
Ia masih mengingat jelas hari pertamanya berjualan. Saat itu bertepatan dengan peresmian Masjid Raya Sabilal Muhtadin. Kota begitu ramai dipenuhi masyarakat. Tak disangka, dagangannya habis dalam waktu singkat. Hari itu ia membawa pulang uang sekitar enam ribu rupiah—jumlah yang pada masa itu terasa sangat besar baginya.
“Uang segitu waktu itu besar sekali. Saya jadi tambah semangat. Semangat saya makin menyala untuk sukses di perantauan walau cuma jualan bakso,” ucapnya lirih.
Dari keuntungan kecil yang didapat setiap hari, Mas Joko menyisihkan sebagian uangnya untuk ditabung. Ia punya satu tekad: memiliki gerobak bakso sendiri, meski sederhana. Hingga suatu hari, kesempatan itu datang tanpa diduga.
“Ada tetangga perlu uang tiga puluh lima ribu rupiah. Sebagai gantinya, gerobak baksonya diberikan ke saya,” katanya, matanya menerawang mengingat masa lalu.

Sejak saat itu, perjuangannya perlahan menemukan bentuk. Ia tak lagi memikul dagangan, melainkan mendorong gerobak menyusuri gang-gang kota. Panas matahari, hujan, hingga jalanan sepi malam hari sudah menjadi sahabat akrab dalam perjalanan hidupnya.
Kesetiaannya pada usaha bakso sempat membawanya mencoba membuka kios sendiri. Harapannya sederhana: ingin memiliki tempat tetap agar usahanya lebih maju. Namun hidup tak selalu berjalan sesuai keinginan.
“Saya pernah tiga kali buka usaha di tempat. Tiga kali juga gagal,” tuturnya sambil tersenyum, seolah kegagalan hanyalah bagian kecil dari perjalanan panjang hidupnya.
Bagi Mas Joko, kegagalan bukan alasan untuk berhenti. Ia percaya, menjaga kualitas dan tetap tekun jauh lebih penting daripada terus meratapi nasib. Prinsip itulah yang membuatnya bertahan puluhan tahun.
“Rezeki selalu ada, Pak. Kadang ada pesanan untuk acara perkawinan sampai lima ratus porsi,” katanya penuh syukur.
Di tengah zaman yang terus berubah, denting mangkok Mas Joko masih terdengar di sudut-sudut Banjarmasin. Ia bukan sekadar penjual bakso. Ia adalah potret keteguhan seorang perantau yang menolak menyerah pada keadaan.
Dari lorong-lorong sempit kota ini, Mas Joko mengajarkan bahwa keberhasilan tidak selalu lahir dari kemewahan. Kadang, ia tumbuh dari langkah kecil yang dijalani dengan sabar, dari peluh yang jatuh setiap hari, dan dari keyakinan bahwa rezeki akan selalu menemukan jalan bagi mereka yang tidak berhenti berusaha.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....