"Soto Pak Bondet: Hangat yang Menyimpan Keteguhan
- 31 Okt 2025 12:49 WIB
- Banjarmasin
KBRN, Banjarmasin: Soto, siapa yang tak mengenalnya? Hidangan berkuah ini seolah menjadi bahasa rasa yang menyatukan Nusantara. Dari Soto Betawi yang gurih berempah, Soto Banjar yang manis lembut, hingga Soto Lamongan yang kuning menggoda dengan taburan koya renyah di atasnya.
Di mana pun kaki melangkah, soto selalu hadir membawa cerita: tentang rumah, perjuangan, dan kehangatan yang tak lekang waktu.
Di Banjarmasin, aroma soto Lamongan juga mudah dijumpai. Namun ada satu tempat yang menyimpan kisah lebih dalam dari sekadar nikmatnya santapan, sebuah warung kecil di lingkungan RS Bhayangkara Banjarmasin, milik seorang lelaki sederhana bernama Pak Bondet, yang telah lebih dari satu dekade menekuni usaha kuliner yang menjadi nadi kehidupannya.
“Saya memulai usaha ini dengan modal kecil. Alhamdulillah sampai sekarang masih bisa bertahan,” ujarnya dengan senyum yang meneduhkan, seolah aroma kuah soto yang mengepul tiap pagi ikut tersenyum bersamanya.
Namun perjalanan menuju hangatnya hari ini tidaklah mudah. Di tahun 1998, di tepi Sungai Martapura tidak jauh dari di pelabuhan kapal speed boat yang ramai namun keras ia mulai berjualan. Meja kayu sederhana, bangku bangku kayu dan sebuah panci besar berisi harapan.
Di sanalah awal ia belajar bahwa rezeki tak selalu datang deras seperti arus sungai, kadang tenang, kadang surut, tapi selalu ada jika terus diupayakan.
Kini Warung mungil berukuran tiga kali tiga meter di salah satu sudut RS. Bhayangkara, kini menjadi saksi diam dari kisah keteguhan. Di balik setiap kepulan uap soto yang ia sajikan, tersimpan doa seorang ayah yang ingin anaknya tumbuh lebih baik dari dirinya.
“Saya tidak pernah menyangka, dari tempat kecil inilah keluarga saya bisa hidup. Yang penting halal, hasil keringat sendiri,” ucapnya pelan, menatap wajan kuah yang mendidih perlahan.
Namun badai besar sempat datang ketika pandemi COVID-19 melanda, pengunjung sepi, meja-meja kosong, dan aroma kuah yang biasanya menggoda justru menjadi sepi saksi. “Waktu itu berat sekali. Tapi saya yakin, kalau masih mau berusaha, pasti ada jalan,” kenangnya.
Ia sempat menjadi pekerja serabutan, mengumpulkan rupiah demi bisa bertahan hidup dan kembali membuka warungnya suatu hari nanti. Dan benar, jalan itu terbuka.
Kini Pak Bendot bisa melanjutkan kembali usaha kecilnya, dengan harga Rp15.000 per mangkuk, sotonya kembali hangat diseruput para pelanggan tetap, mulai dari petugas rumah sakit, para kelurpasien hingga masyarakat sekitar yang sekadar mampir mencari santapan pagi dan siang.
“Kadang hasilnya tidak menentu, apalagi harga bahan-bahan sekarang mahal. Tapi kalau bisa balik modal saja sudah Alhamdulillah,” katanya sambil tertawa kecil, tawa yang terdengar seperti tanda syukur di tengah badai kehidupan.
Warung kecil Pak Bondet mungkin tak punya papan nama megah atau promosi media sosial. Tapi di sanalah, di sela-sela kepulan asap dan aroma daun jeruk, tersimpan nilai-nilai besar tentang keteguhan, kesabaran, dan keikhlasan.
Ia tidak sekadar menjual soto, ia menyajikan pelajaran hidup dalam setiap sendokannya. Ada cinta yang direbus bersama kuah, ada harapan yang diaduk bersama koya, dan ada doa yang perlahan menguap bersama uap panas pagi hari.
Bagi sebagian orang, soto hanyalah makanan sederhana.Tapi bagi Pak Bondet, soto adalah cara untuk bertahan, cara untuk bersyukur, dan cara untuk terus percaya bahwa kerja keras dan kejujuran akan selalu menemukan jalannya.
Di antara kepulan asap dan aroma rempah, tersimpan pesan yang sederhana namun dalam: bahwa hidup, seperti semangkuk soto hangat, akan selalu terasa nikmat, selama dihidangkan dengan ketulusan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....