Kenali Kanker Nasofaring, Kanker yang Sering Terlambat Disadari

  • 28 Agt 2026 06:30 WIB
  •  Banjarmasin
Poin Utama
  • Kanker nasofaring merupakan salah satu jenis kanker yang tumbuh di bagian belakang hidung
  • Kanker nasofaring lebih banyak ditemukan pada laki-laki dibandingkan perempuan dan relatif lebih sering terjadi di wilayah Asia, termasuk Asia Tenggara

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Kanker nasofaring merupakan salah satu jenis kanker yang tumbuh di bagian belakang hidung, tepatnya pada area nasofaring yang berada di bagian atas tenggorokan. Karena lokasinya tersembunyi dan gejala awalnya sering menyerupai keluhan hidung, tenggorokan, atau telinga biasa, penyakit ini tidak jarang terlambat dikenali. Kementerian Kesehatan RI menyebutkan bahwa kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan dalam penanganan kanker nasofaring.

Kanker nasofaring terjadi ketika sel-sel di jaringan nasofaring mengalami perubahan dan berkembang secara tidak terkendali. Salah satu faktor yang memiliki hubungan kuat dengan penyakit ini adalah infeksi Epstein-Barr Virus (EBV). Namun, seseorang yang pernah terinfeksi EBV tidak otomatis akan mengalami kanker nasofaring. Faktor lain seperti keturunan, jenis kelamin, lingkungan, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, serta pola makan tertentu juga dapat meningkatkan risiko.

Kementerian Kesehatan menyebutkan, kanker nasofaring lebih banyak ditemukan pada laki-laki dibandingkan perempuan dan relatif lebih sering terjadi di wilayah Asia, termasuk Asia Tenggara. Konsumsi makanan yang diawetkan dengan garam, seperti ikan asin, juga disebut sebagai salah satu faktor yang dapat meningkatkan risiko. Karena itu, masyarakat dianjurkan menerapkan pola makan bergizi seimbang serta menghindari kebiasaan yang dapat meningkatkan risiko kanker.

Pada tahap awal, kanker nasofaring dapat menimbulkan keluhan yang terlihat sederhana. Beberapa gejalanya antara lain hidung tersumbat atau pilek berkepanjangan, mimisan berulang, serta lendir atau air liur yang bercampur darah. Keluhan pada telinga juga perlu diperhatikan, terutama jika terjadi pada satu sisi, seperti telinga terasa penuh, berdenging, nyeri, atau pendengaran tiba-tiba menurun.

Gejala lain yang perlu diwaspadai adalah munculnya benjolan di leher, terutama jika tidak terasa nyeri dan tidak kunjung menghilang. Pada kondisi yang lebih lanjut, kanker nasofaring dapat menyebabkan sakit kepala berkepanjangan, gangguan penglihatan seperti penglihatan ganda, wajah terasa kebas, kesulitan membuka mulut, hingga sulit menelan. Meski demikian, munculnya gejala-gejala tersebut tidak selalu berarti seseorang menderita kanker dan tetap membutuhkan pemeriksaan dokter untuk memastikan penyebabnya.

Untuk memastikan diagnosis, dokter dapat melakukan pemeriksaan pada hidung dan nasofaring menggunakan alat endoskopi atau nasofaringoskopi. Jika ditemukan jaringan yang mencurigakan, dokter dapat melakukan biopsi, yaitu mengambil sampel jaringan untuk diperiksa di laboratorium patologi anatomi. Pemeriksaan pencitraan seperti CT scan atau MRI juga dapat dilakukan untuk mengetahui ukuran tumor dan kemungkinan penyebarannya.

Pengobatan kanker nasofaring bergantung pada jenis, stadium kanker, kondisi pasien, dan apakah kanker sudah menyebar ke bagian tubuh lain. Menurut Kementerian Kesehatan, radioterapi dan kemoterapi merupakan bagian penting dalam penanganan penyakit ini. Karena pilihan terapi harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien, pengobatan perlu dilakukan berdasarkan evaluasi dokter spesialis.

Masyarakat diimbau tidak mengabaikan keluhan yang berlangsung terus-menerus, terutama mimisan berulang, hidung tersumbat berkepanjangan, gangguan pendengaran pada satu telinga, atau benjolan di leher. Pemeriksaan lebih awal dapat membantu menemukan penyakit pada tahap yang lebih dapat ditangani. Informasi ini bersumber dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui Ayosehat Kemenkes dan Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, serta National Cancer Institute (NCI).

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....