Fenomena “Self-Harm” Jadi Alarm Kesehatan Mental

  • 26 Feb 2026 19:36 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin – Kasus depresi yang berujung pada tindakan menyakiti diri sendiri atau self-harm menjadi alarm serius bagi masyarakat bahwa kesehatan mental tidak boleh disepelekan. Jika dipicu persoalan asmara, fenomena ini menimbulkan keprihatinan mendalam sekaligus menjadi refleksi penting tentang urgensi dukungan keluarga dan lingkungan sekitar.

Praktisi bimbingan konseling (BK) pun angkat bicara agar masyarakat dapat mengambil pelajaran penting dari peristiwa tersebut. Mereka menilai persoalan ini tidak hanya berkaitan dengan hubungan asmara, tetapi juga faktor kematangan emosional dan kekuatan support system.

Wulan, Guru BK MTsN di Tanah Bumbu, Kamis, 26 Februari 2026, menyoroti persoalan ini dari sudut pandang perkembangan psikologis. Menurutnya, meski seseorang secara biologis telah memasuki usia dewasa, kematangan emosional belum tentu berkembang secara optimal.

“Depresi yang dialami kemungkinan merupakan akumulasi dari tugas perkembangan yang tidak tuntas pada fase sebelumnya,” ujar Wulan. “Kondisi itu diperkuat ketika lingkungan atau sosok yang paling diharapkan tidak sesuai dengan ekspektasi.”

Sementara itu, Shodiqin, Guru BK MTsN di Hulu Sungai Utara, menilai persoalan tersebut juga berkaitan dengan rendahnya kontrol diri serta hubungan asmara yang tidak sehat atau toxic relationship. Menurutnya, kondisi emosional yang labil dapat memicu tindakan impulsif.

“Kejadian semacam ini bisa terjadi di sekitar kita, biasanya dipengaruhi hubungan asmara yang tergolong toxic dan minimnya kontrol diri ketika seseorang terlalu larut dalam perasaan,” kata Shodiqin. “Pengelolaan emosi yang tidak stabil inilah yang dapat memicu munculnya self-harm.”

Keduanya praktisi menegaskan bahwa pencegahan harus dimulai dari kepekaan lingkungan sekitar dan penguatan mental individu. Wulan menekankan pentingnya menjadi pendengar yang baik bagi mereka yang sedang menghadapi tekanan batin.

“Sebagai orang terdekat, kita perlu lebih banyak mendengar,” ucap Wulan. “Cerita yang tampak sepele bagi kita bisa jadi merupakan beban yang sangat berat bagi mereka.”

Ia juga mengingatkan generasi muda untuk menanamkan nilai self-love atau mencintai diri sendiri. Menurutnya, kebahagiaan perlu dibangun dari dalam diri, bukan sepenuhnya bergantung pada orang lain.

“Tanamkan perspektif bahwa kebahagiaan itu kita yang ciptakan,” kata Wulan. “Seiring bertambahnya usia, akan banyak hal yang tidak sesuai harapan, sehingga penerimaan diri perlu ditanamkan sejak dini.”

Dari sisi pencegahan, Shodiqin menyarankan remaja untuk lebih fokus menggali minat, bakat, dan mempersiapkan karier masa depan agar tidak terlalu larut dalam persoalan asmara di usia dini. Ia juga menegaskan pentingnya kontrol diri serta peran aktif orang tua dalam melakukan pengawasan dan pendampingan.

Keduanya sepakat bahwa penanganan kasus serupa tidak cukup hanya berfokus pada pemulihan fisik, tetapi juga pemulihan psikis secara menyeluruh. Pendampingan intensif dari keluarga dan lingkungan menjadi kunci agar individu dapat bangkit dan kembali menjalani kehidupan dengan lebih sehat secara mental.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....