Tips Merawat Pasien Post Stroke

  • 28 Jan 2025 20:25 WIB
  •  Banjarmasin

KBRN, Banjarmasin: Kita tidak pernah menduga jika suatu saat harus merawat anggota keluarga yang mengalami stroke. Serangan penyakit tersebut bisa datang dengan tiba-tiba tanpa gejala, dan membuat si penderita maupun pendamping belum siap dengan segala ketidakberdayaan pasien.

Dibutuhkan keterampilan khusus dalam merawat pasien stroke di rumah. Bahkan jika pasien sudah melewati fase akut stroke. Namun masih memiliki gejala sisa yang biasanya disebut dengan post stroke maka tetap saja pasien membutuhkan pendampingan yang tepat.

Gejala sisa atau ‘post stroke’ dapat berupa keterbatasan gerak, kelelahan, gangguan berbicara atau menelan, penurunan daya ingat, kekakuan, nyeri dan ‘swing mood’ serta masalah koordinasi dan keseimbangan. Padahal pada fase ini pasien diharuskan untuk menjalani terapi untuk membantu mereka menjalani aktivitas sehari-hari.

Terapi yang dilakukan tentunya disesuaikan dengan tingkat keparahan, kerusakan bagian tubuh dan rentang usia pasien. Pasien yang mengalami post stroke perlu menjalani terapi untuk memulihkan fungsi otak dan kemampuan tubuhnya.

Terapi pasca stroke bertujuan untuk membantu pasien menjalani aktivitas sehari-hari secara mandiri. Awalnya memang cukup sulit untuk meyakinkan pasien agar mau segera bangkit berusaha dengan kekuatan yang ada. Sebagai pendamping pasien harus bisa memotivasi supaya muncul keberanian dan tekad yang kuat dari dalam diri mereka.

Pasien harus yakin bahwa dirinya mampu mandiri dengan bekal rutin latihan setiap harinya karena sejatinya 70% kesembuhan berasal dari dalam diri, sisanya 30% dibantu dengan obat dan lain-lain. Dibutuhkan dukungan dan peranan dari seluruh anggota keluarga dalam merawat pasien post stroke agar dapat beraktivitas kembali secara mandiri.

“Sebaiknya sebelum mengubah posisi pasien, kita harus memperhatikan posisi gerak tubuh kita terlebih dahulu guna meminimalisir kemungkinan cedera saat memindah atau mengangkat pasien tersebut,“ ujar Anis Oktavia, salah satu fisioterapis lulusan Politeknik Unggulan Kalimantan yang saat ini sedang merawat ibunya yang mengalami stroke, Senin (27/1/2025).

Ia juga menambahkan bahwa pastikan pasien mendapatkan posisi ternyaman dan terbaik, supaya saat dirubah posisi atau diterapi tidak menambah rasa sakit. Ambulasi merupakan salah satu latihan yang penting untuk membantu pasien dalam proses pemulihan. Pasien dilatih secara berkala dan teratur agar mampu secara mandiri, dengan atau tanpa alat bantu.

Dimulai dari posisi tidur ke posisi duduk dengan teknik khusus minim cedera dan yang paling mudah diusahakan pasien. Berikutnya posisi duduk menjadi berdiri. Melewati beberapa latihan berdiri 1 menit, 2 menit dan seterusnya sampai mampu berpindah tempat dengan berjalan perlahan.

Beragam stimulasi yang dilakukan misalnya dengan menggelitik bagian tubuh yang terdampak, jika mulai ada respon berarti sistem syaraf mulai bekerja dan dapat dilatih perlahan secara bertahap. Sebaiknya pasien tidak selalu dibantu terus menerus, sedikit demi sedikit harus dimunculkan usaha dari dalam diri sendiri untuk berlatih mandiri selama proses penguatan.

Anis juga memiliki beberapa pasien lansia yang rutin melakukan terapi di wilayah banjarmasin. Ia menerapkan beberapa latihan dengan beban yaitu memberikan tekanan pada anggota tubuh tertentu untuk menjaga agar massa otot tidak mengecil, sebab ototlah yang mengikat struktur tulang hingga menjadi kuat menopang tubuh.

Latihan menggenggam, mendorong telapak tangan, massage stimulasi, rangsangan hangat atau dingin bisa dengan bantuan minyak kayu putih. Hal itu dapat membantu pengukuran respon pasien, serta beragam latihan lain yang disesuaikan dengan kebutuhan pasien.

Selain itu, pertimbangan untuk membeli alat bantu seperti tongkat, walker, kursi roda juga harus disesuaikan dengan kebutuhan pasien. Apabila sudah mampu berjalan walau perlahan dan tidak berpotensi jatuh berarti pasien sudah dapat diartikan mandiri.

Selama melakukan terapi, pasien tetap harus mengonsumsi obat dari dokter dan menjaga pola makan yang tepat. Tak lupa, agar mendapatkan penanganan yang tepat, sebaiknya selalu berkonsultasi dengan dokter spesialis saraf atau dokter kedokteran fisik dan rehabilitasi terlebih dahulu.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....