Mahasiswa Diajak Cerdas Gunakan Media Sosial
- 17 Sep 2026 07:09 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin – Media sosial telah menjadi bagian dari keseharian mahasiswa, mulai dari mencari informasi, mendukung pembelajaran, berkomunikasi, hingga mendapatkan hiburan. Di tengah kemudahan tersebut, mahasiswa perlu memiliki kemampuan memilah informasi agar aktivitas scroll, like, dan share dilakukan secara bijak.
Dua mahasiswa Universitas Sari Mulia Banjarmasin membahas ini dalam program Pandiran Baisukan PRO 4 RRI Banjarmasin pada Senin, 14 September 2026. Mengangkat tema “Scroll, Like, Share: Seberapa Cerdas Mahasiswa Menggunakan Media Sosial?”, siaran menghadirkan dua mahasiswa Program Studi Informatika, Lili Paramita dan Nadia Azaria, dengan Host Kyan.
Nadia Azaria mengatakan, media sosial saat ini tidak hanya digunakan sebagai sarana hiburan, tetapi juga menjadi tempat mahasiswa memperoleh informasi dan berkomunikasi. Informasi mengenai kegiatan kampus maupun berbagai program pengembangan diri juga banyak ditemukan melalui media sosial.
“Media sosial itu sudah jadi bagian dari kehidupan mahasiswa sendiri, karena digunakan untuk mencari informasi, berkomunikasi, dan juga informasi kegiatan kampus,” ujar Nadia.
Sementara itu, Lili Paramita memanfaatkan media sosial sebagai salah satu sarana mendukung pembelajaran. Sebagai mahasiswa Informatika, aktivitas akademik juga telah banyak menggunakan teknologi digital, termasuk dalam proses pengumpulan tugas yang dilakukan secara daring.
Menurut Lili, media sosial juga dapat dimanfaatkan mahasiswa untuk mencari informasi yang berkaitan dengan pembelajaran. Ia bahkan turut membuat konten di TikTok dan Instagram untuk mengenalkan Program Studi Informatika, termasuk pembelajaran dan kegiatan yang dilakukan mahasiswa.
Nadia juga menceritakan pengalamannya sebagai Google Student Ambassador pada semester sebelumnya. Ia mengetahui informasi mengenai program tersebut melalui media sosial dan kemudian menggunakannya untuk membagikan konten edukasi mengenai teknologi Google, termasuk kecerdasan buatan dan Gemini kepada mahasiswa lainnya.
“Awalnya saya lihat di Instagram, kemudian saya coba cari-cari informasinya dan saya coba daftar. Alhamdulillah kemarin sempat jadi Google Student Ambassador,” kata Nadia.
Namun, kemudahan mengakses media sosial juga memiliki tantangan. Salah satunya adalah kebiasaan doom scrolling, yaitu aktivitas menggulir konten secara terus-menerus tanpa tujuan yang jelas hingga menghabiskan banyak waktu.
Lili mengakui, kebiasaan tersebut lebih mudah terjadi ketika sedang libur dan tidak memiliki banyak aktivitas. Untuk mengurangi penggunaan telepon genggam, ia memilih melakukan kegiatan lain, seperti mengikuti kepanitiaan kampus atau berkumpul bersama teman tanpa terlalu sering menggunakan telepon genggam.
“Kalau lagi libur, terutama sekarang libur, itu bisa seharian scrolling saja kalau tidak ada kegiatan,” ujar Lili.
Kebiasaan doom scrolling juga dapat mengganggu aktivitas akademik. Lili dan Nadia mengakui pernah menunda pengerjaan tugas karena memilih membuka media sosial terlebih dahulu. Niat awal untuk sekadar beristirahat beberapa menit dapat berubah menjadi aktivitas yang berlangsung lebih lama.
Selain persoalan waktu, penggunaan media sosial juga berkaitan dengan kemampuan mahasiswa menyaring informasi sebelum membagikannya. Nadia mengingatkan agar pengguna tidak langsung mempercayai informasi yang muncul di media sosial, terlebih jika informasi tersebut berkaitan dengan isu sensitif.
“Yang paling penting, kita sebagai mahasiswa jangan langsung percaya yang ada di media sosial, jangan langsung share juga. Kita cek dulu sumbernya apakah memang terpercaya, lalu kita cek dari sumber lain,” ujar Nadia.
Menurutnya, melakukan cross check atau memeriksa informasi melalui beberapa sumber menjadi langkah penting sebelum membagikan suatu konten. Informasi yang memicu kemarahan atau emosi juga perlu disikapi dengan lebih hati-hati karena dapat mendorong seseorang membagikannya secara spontan.
Lili menambahkan, di lingkungan perkuliahannya, mahasiswa cenderung melakukan pemeriksaan terhadap informasi sebelum menyebarkannya. Ia menilai kemampuan berpikir kritis diperlukan agar mahasiswa dapat membedakan informasi yang benar dengan informasi yang belum terbukti kebenarannya.
Dalam penggunaan sehari-hari, konten yang dibagikan kedua mahasiswa tersebut lebih banyak berupa hiburan maupun konten yang berkaitan dengan kondisi teman. Nadia lebih sering membagikan konten lucu, seperti video kucing, sedangkan Lili menyesuaikan konten dengan kondisi atau ketertarikan temannya.
Bagi mahasiswa, media sosial pada akhirnya tidak hanya soal seberapa lama seseorang mampu bertahan melakukan scrolling, tetapi juga bagaimana teknologi digunakan untuk mendapatkan manfaat. Kemampuan berpikir kritis, mengatur waktu, serta memeriksa informasi sebelum membagikannya menjadi bagian penting dari kecerdasan bermedia sosial di kalangan mahasiswa.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....