Hoaks Gerhana Matahari Total 2 Agustus 2026, Ini Fakta Sebenarnya
- 02 Agt 2026 04:30 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin -Informasi yang beredar di media sosial mengenai adanya Gerhana Matahari Total pada 2 Agustus 2026 yang disebut-sebut akan membuat Bumi gelap gulita selama enam menit dipastikan tidak benar. Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) telah mengklarifikasi bahwa informasi tersebut merupakan hoaks dan mengimbau masyarakat untuk tidak mudah mempercayai kabar yang belum terverifikasi.
Klarifikasi tersebut mengacu pada penjelasan Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika Pusat Riset Antariksa BRIN, Thomas Djamaluddin. Ia menjelaskan bahwa fenomena Gerhana Matahari Total yang ramai dibicarakan sebenarnya bukan terjadi pada 2 Agustus 2026, melainkan pada 2 Agustus 2027. Kesalahan penyebutan tahun inilah yang kemudian memicu munculnya informasi menyesatkan di media sosial.
Menurut data resmi NASA, Gerhana Matahari Total berikutnya memang akan terjadi pada 12 Agustus 2026. Namun, fenomena tersebut hanya dapat disaksikan di wilayah belahan Bumi utara, meliputi Greenland, Islandia, Rusia bagian utara, Samudra Atlantik, Spanyol, dan sebagian kecil Portugal barat laut. Indonesia tidak termasuk dalam jalur lintasan gerhana tersebut.
Gerhana Matahari Total merupakan fenomena ketika Bulan berada tepat di antara Matahari dan Bumi sehingga seluruh piringan Matahari tertutup dari pandangan di wilayah yang berada pada jalur bayangan inti Bulan atau umbra. Karena membutuhkan posisi ketiga benda langit yang sangat presisi, fenomena ini hanya dapat diamati dari wilayah tertentu dan tidak terjadi secara bersamaan di seluruh dunia.
Sementara itu, klaim mengenai Bumi yang akan gelap selama sekitar enam menit sebenarnya merujuk pada Gerhana Matahari Total 2 Agustus 2027. Peristiwa tersebut diperkirakan menjadi salah satu gerhana terlama abad ini dan lintasan totalitasnya akan melintasi sejumlah negara di Afrika Utara serta sebagian wilayah Timur Tengah.
Masyarakat diimbau untuk lebih cermat menyaring informasi yang beredar di media sosial, terutama terkait fenomena astronomi yang kerap memunculkan berbagai spekulasi. Informasi resmi dapat diperoleh melalui lembaga terpercaya seperti BRIN, NASA, maupun Komdigi agar tidak mudah terpengaruh oleh kabar yang menyesatkan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....