Nostalgia Audio: Menilik Ketangguhan Polytron Xcel Hi-Fi, Mahakarya Analog-Digital
- 26 Mei 2026 09:05 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasi – Di tengah gempuran tren smart speaker nirkabel di tahun 2026 ini, perangkat home audio klasik seperti Polytron Xcel Hi-Fi tetap menunjukkan tajinya sebagai artefak rekayasa perangkat keras (hardware engineering) yang tangguh. Menyatukan teknologi pembacaan optik, pita magnetik, memori solid-state, hingga penerima sinyal radio, sistem ini terbukti memiliki usia pakai (lifespan) yang melampaui masanya.
Dari segi kapabilitas, pengguna dapat menavigasi berbagai input sumber audio melalui tombol FUNCTION yang tersemat di panel kiri. Melalui fungsi ini, pengguna dapat mengakses modul Radio Frequency (RF) pada sirkuit FM Tuner internalnya. Secara teknis, penerima sinyal (tuner) pada perangkat era ini umumnya menggunakan sistem superheterodyne dengan sensitivitas presisi tinggi untuk menangkap spektrum Very High Frequency (VHF).
Modul ini dirancang dengan rasio Signal-to-Noise (SNR) yang optimal, sehingga mampu memisahkan frekuensi stasiun radio FM dengan tingkat kejelasan vokal (voice clarity) yang sangat baik. Meski tanpa pemrosesan sinyal digital modern.
Selain FM Tuner, Polytron Xcel Hi-Fi dibekali mekanisme 5 Disc Changer dengan modul optik multi-format (CD, DVD, VCD, MP3, MPEG4, JPEG), serta antarmuka digital berupa input USB dan SD/MMC Card. Di ranah analog, perangkat ini mempertahankan Double Logic Deck (Deck A dan Deck B) untuk pemutaran serta perekaman kaset pita magnetik.
Untuk urusan kualitas audio, perangkat ini mengandalkan arsitektur amplifikasi yang solid. Polytron membenamkan sirkuit pemrosesan suara signature mereka. Yakni tombol BAZZOKE dan MAGIC SOUND di sisi kanan panel.
Secara teknis, fitur Bazzoke berfungsi sebagai low-frequency enhancement circuit (penguat frekuensi rendah) yang mampu mereproduksi dentuman bass (sub-bass hingga mid-bass) yang dalam, tebal, dan memiliki punch yang dinamis. Tanpa mendistorsi atau menutupi detail di frekuensi tengah (mid-range) dan tinggi (treble).
Ketangguhan teknis dan superioritas audio ini dibuktikan langsung oleh Andi Raihan, seorang penikmat audio yang telah menggunakan unit Polytron Xcel Hi-Fi ini sejak tahun 2011. Dibeli kala itu melalui skema kredit leasing selama 12 bulan, unit miliknya ternyata masih beroperasi dengan sangat prima.
Menariknya, meskipun Andi kini telah memiliki sistem audio keluaran terbaru (tahun 2026) dari merek lain. Perangkat lawas ini tetap menjadi primadona di rumahnya.
"Meski secara teknologi konektivitas nirkabelnya sudah tertinggal, tapi untuk urusan output kualitas audio, performanya masih sangat berani disandingkan dengan produk keluaran terbaru tahun 2026. Build quality dan sirkuit mesinnya ini sangat bandel dan kuat tahan lama tiada ampun," ujar Andi menceritakan pengalamannya.
Andi menjelaskan bahwa arsitektur audio klasik memiliki karakteristik resonansi yang unik. Memutar musik menggunakan pemutar CD fisik maupun pita kaset analog melalui Double Logic Deck miliknya menghasilkan kurva suara (timbre) yang lebih berkarakter. Terdapat kehangatan suara (analog warmth) dari putaran kaset dan CD yang tidak bisa direplikasi oleh kebersihan suara format kompresi digital murni yang terasa kaku.
Lebih dari sekadar spesifikasi dan output desibel, perangkat Polytron Xcel Hi-Fi ini memiliki nilai sentimental yang tak ternilai harganya. "Selain memang masih dipakai karena suara bass dan detailnya yang bagus, perangkat ini seperti mesin waktu. Suara analog dari kaset pita itu selalu berhasil membangkitkan nostalgia, dan yang paling penting, membangkitkan lagi kenangan indah saya saat mendengarkan musik bersama mendiang Ayah," kata Andi.
Pada akhirnya, Polytron Xcel Hi-Fi membuktikan bahwa rekayasa audio yang dirancang dengan dedikasi pada kualitas komponen tidak hanya menghasilkan perangkat keras yang abadi. Tetapi juga mampu menjadi medium penyambung memori antar generasi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....