ULM Ubah Sampah Plastik Jadi Ecowood, Solusi Baru Persoalan Lingkungan
- 10 Apr 2026 13:59 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarbaru – Di tengah persoalan sampah yang kian menggunung di Banjarmasin, solusi inovatif lahir dari ruang riset Universitas Lambung Mangkurat (ULM). Melalui kerja tim dosen lintas fakultas, ULM menghadirkan teknologi pengolahan sampah yang memberi harapan baru bagi pengelolaan lingkungan.
Riset tersebut merupakan hasil kolaborasi dosen dari berbagai bidang keilmuan di ULM, tidak terbatas pada satu fakultas. Prof. Sunardi yang saat ini menjabat sebagai Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat ULM menjadi ketua tim riset yang telah mengembangkan teknologi ini sejak empat tahun lalu, bahkan sebelum menjabat posisi tersebut.
Dari proses panjang tersebut, lahir inovasi berupa reaktor pelelehan sampah plastik residu yang mampu mengubah limbah tanpa nilai ekonomi menjadi produk komposit bernama ecowood. Teknologi ini berbeda dari metode pengolahan sampah pada umumnya karena tidak memerlukan proses pemilahan yang terlalu rinci.
Sampah plastik campuran yang biasanya berakhir di tempat pembuangan akhir dilelehkan pada suhu di bawah 250 derajat Celsius. Proses tersebut relatif aman karena tidak menghasilkan emisi berbahaya seperti dioksin, serta dilakukan secara kontinu dengan aliran sampah dari bagian atas reaktor hingga menjadi material padat.

Hasil pengolahan tersebut tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga memiliki nilai ekonomi. Satu ton sampah plastik residu dapat diolah menjadi sekitar satu meter kubik ecowood dengan nilai mencapai Rp4 juta hingga Rp4,5 juta.
Produk seperti meja dan kursi yang dihasilkan dari ratusan kilogram sampah juga telah dipasarkan dengan kualitas setara kayu. Selain itu, produk tersebut memiliki keunggulan tahan terhadap rayap, asam, dan api sehingga lebih awet digunakan.
Bagi Prof. Sunardi dan tim, inovasi ini menjadi langkah nyata dalam menjawab persoalan sampah dari sumbernya. Melalui program “Sampah Kampus, Selesai di Kampus”, mereka berharap pengelolaan sampah tidak lagi bergantung pada tempat pembuangan akhir.
Ke depan, ULM membuka peluang kolaborasi dengan berbagai daerah agar teknologi ini dapat diperluas. Langkah tersebut diharapkan memberikan dampak yang lebih luas bagi masyarakat dalam pengelolaan sampah berkelanjutan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....