Digitalisasi Budaya Jadi Inspirasi Kreatif Anak Muda Banua

  • 12 Nov 2025 04:56 WIB
  •  Banjarmasin

KBRN, Banjarmasin: Digitalisasi berperan penting dalam menyelamatkan budaya yang hampir punah. Dengan transformasi digital, budaya lokal kini dapat dijangkau lebih luas, bahkan hingga pelosok, serta dikenalkan kepada generasi muda dengan cara yang lebih modern.

Hal tersebut menjadi topik bahasan dalam siaran Pandiran Baisukan Harmoni Damai di RRI Pro4 Banjarmasin, dengan tema Digitalisasi Budaya: Inovasi, Identitas, dan Inspirasi Anak Muda. Menghadirkan Ralin, dosen IT Universitas Sari Mulia, bersama dua mahasiswanya, Excel dan Kalistowen.

"Media sosial dan teknologi digital harus menjadi wadah untuk mencintai dan mengenalkan budaya agar tidak hilang dimakan zaman," ucap Ralin, Senin (10/11/2025)

Sementara itu, Excel, salah satu mahasiswa IT, menceritakan pengalamannya membuat proyek animasi bertema asal-usul budaya Banjarmasin sebagai bagian dari tugas perkuliahan.

“Kami membuat animasi budaya Banjar dalam bentuk video. Meski baru tahap laporan, ke depan rencananya akan diunggah di media sosial agar lebih banyak orang mengenal budaya kita,” ujarnya menjelaskan.

Ditambahkannya, inisiatif tersebut menunjukkan upaya konkret mahasiswa dalam mengimplementasikan digitalisasi di dunia pendidikan dan kebudayaan.

Senada dengan itu, Kalistowen menambahkan bahwa inovasi bisa dimulai dari hal sederhana, seperti membagikan konten budaya di media sosial. “Sekarang anak muda sudah terbiasa dengan teknologi. Jadi, posting budaya Banjar di Instagram atau TikTok pun sudah termasuk bentuk pelestarian,” ujarnya.

Ia berharap generasi muda lebih aktif memproduksi konten positif tentang budaya lokal, bukan hanya menjadi penonton di dunia digital.

Lebih lanjut, Ralin menyoroti pentingnya kolaborasi antara akademisi, komunitas, dan pemerintah dalam membangun ekosistem digital berbasis kebudayaan. Ia mencontohkan kegiatan kolaboratif seperti pameran lukisan digital, pengenalan budaya melalui *virtual reality* (VR), hingga edukasi teknologi di sekolah-sekolah.

“Kami ingin teknologi menjadi jembatan, bukan penghalang, antara generasi muda dengan akar budayanya,” ucapnya tegas.

Melalui siaran ini, Pandiran Baisukan berhasil membuka wawasan pendengar tentang bagaimana inovasi digital dapat bersinergi dengan nilai budaya. Semangat anak muda seperti Ralin, Excel, dan Kalistowen menjadi bukti bahwa kemajuan teknologi tak harus menjauhkan kita dari identitas, justru bisa menjadi inspirasi baru dalam menjaga kearifan lokal Banua agar tetap hidup di era digital.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....