Gen-Z Bahas Nilai Budaya Permainan Dandang Banjar

  • 03 Nov 2025 19:44 WIB
  •  Banjarmasin

KBRN, Banjarmasin: Program Siaran Program Pandiran Baisukan Pro4 RRI Banjarmasin edisi Sabtu (1/11/2025) menghadirkan obrolan menarik bertajuk “Dandang dalam Perspektif Gen-Z.” Siaran ini mengulas nilai budaya permainan tradisional Banjar yang mulai jarang dijumpai di kalangan anak muda.

Empat narasumber dari Komunitas Palalah, Erwin, Syauqani, Neza, dan Arif, hadir membagikan pandangan mereka mengenai permainan rakyat kelayangan dandang. Mereka menilai permainan tradisional tersebut bukan sekadar hiburan, tetapi juga sarana membangun kebersamaan, sportivitas, dan kreativitas.

Dalam diskusi yang dipandu secara santai namun penuh makna, Erwin menjelaskan bahwa “dandang” yang dimaksud bukanlah alat masak, melainkan jenis layang-layang besar yang dikenal di daerah Hulu Sungai dan Tapin.

“Dandang itu bukan panci, tapi nama untuk layang-layang besar yang bisa menimbulkan bunyi dengung saat terbang. Permainan ini dulu jadi simbol rasa syukur para petani setelah panen,” ujar Erwin, menggambarkan sisi historis dan filosofis dari permainan tradisional tersebut.

Sementara itu, Syauqani menambahkan bahwa permainan kelayangan dandang memiliki nilai sosial dan gotong royong yang tinggi. “Untuk menerbangkan kelayangan dandang tidak bisa sendiri, harus beberapa orang. Ini melatih kerja sama dan kebersamaan antarwarga, terutama di musim kemarau ketika angin sedang bagus-bagusnya,” ujarnya menjelaskan.

Ia juga menyoroti bahwa tradisi ini telah menjadi bagian penting dari identitas budaya masyarakat Banjar di Tapin dan Hulu Sungai.

Neza,menyoroti perubahan zaman yang membuat permainan rakyat seperti ini mulai dilupakan. "Sekarang anak muda lebih banyak bermain gadget," ucapnya.

Menurut Neza, dandang ini bukan sekadar permainan, tapi simbol kreativitas dan ekspresi budaya Banjar. Kalau kita tidak ikut melestarikan, bisa jadi tradisi ini benar-benar punah. Sebaiknya generasi muda mengenal kembali permainan rakyat sebagai bagian dari warisan leluhur yang penuh makna.

Sementara itu, Arif menambahkan dimensi linguistik dan budaya dalam pembahasan. Ia menjelaskan bahwa dalam bahasa Banjar kuno, kata “dandang” berarti besar atau ganal.

“Jadi, kelayangan dandang itu artinya layangan besar. Ini memperkuat dugaan bahwa istilah itu muncul dari bentuk fisiknya yang luar biasa besar. Tapi tentu masih perlu penelitian lebih lanjut untuk memverifikasi makna historisnya,” kata Arif, yang menekankan pentingnya pendekatan ilmiah dalam memahami tradisi lisan masyarakat Banjar.

Salah satu pendengar, Abah Sofyan dari Pelaihari, membagikan pengalaman tentang Festival Kelayangan Dandang di Pantai Tangkisung, yang berhasil memecahkan rekor dunia dengan menerbangkan lebih dari 7.000 layang-layang secara bersamaan. Kisah tersebut menegaskan bahwa tradisi ini masih hidup dan berkembang, bahkan menarik perhatian masyarakat internasional.

Menutup siaran, para narasumber sepakat bahwa kelayangan dandang bukan hanya permainan masa lalu, tetapi juga simbol identitas budaya yang harus dijaga dan diwariskan.

“Kita, generasi muda, perlu tahu asal-usul tradisi ini dan berusaha menghidupkannya lagi, minimal dengan mengenalkannya di media sosial atau kegiatan budaya,” kata Erwin.

Program Pandiran Baisukan Pro4 RRI Banjarmasin kembali berhasil menghidupkan semangat pelestarian budaya Banjar di tengah arus modernisasi, mengajak Gen-Z untuk tidak sekadar mengenang, tetapi juga meneruskan nilai luhur tradisi Banua.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....