Windows 10 Hentikan Updatenya, Tangani Celah Keamanan Kantor Bagaimana?
- 21 Okt 2025 18:54 WIB
- Banjarmasin
KBRN, Banjarmasin: Pada 14 Oktober 2025 lalu, raksasa teknologi Microsoft menghentikan layanan updatenya untuk Sistem Operasi Windows 10 bagi seluruh pengguna global. Telah berlalu 1 dekade Windows 10 ini sejak rilisnya pada tahun 2015 telah menjadi sistem operasi favorit, durable dan stable bagi segala industri perkantoran yang menggunakannya dan mendapatkan manfaatnya secara meluas.
Namun dengan berakhirnya dukungan pembaharuan keamanan sistem operasi windows 10 ini, maka menimbulkan implikasi baru adanya kekhawatiran akan celah keamanan di setiap industri dan instansi yang menggunakannya, pilihannya sebenarnya ada dua. Membeli lisensi sistem baru windows 11, ataukah tetap memakai windows 10 namun dengan memperkuat keamanan di berbagai lapisan sudut lainnya.
Salah satu Teknisi IT Ahli Pertama yang bekerja di Lembaga Penyiaran Publik, Tio (24), mengungkap kekhawatirannya apabila hal kecil ini tidak mendapat respon dari departemen terkait. Namun dia menuturkan balik lagi, perangkat keras komputer tersebut haruslah memadai atau cukup kuat untuk menjalankan sistem operasi baru Windows 11, dalam hal ini membutuhkan anggaran biaya tambahan juga untuk meningkatkan sparepart baru selain hanya membeli lisensi perangkat lunak windows 11 nya.

Pensiuannya Sistem Windows 10 di Sebuah Laptop (Foto: helpdeskgeek.com)
"Untuk jangka pendeknya windows 10 ini masih aman ya, namun tetap saja kalau tidak dilakukan peralihan ke windows 11 yang ada updatenya. Ini akan bisa menimbulkan celah pada malware, pada virus," kata Tio di Banjarmasin (20/10/2025).
"Belum lagi beberapa aplikasi mungkin, yang awalnya support [compatible] windows 10, karena windows 10 nggak ada update, pihak (pembuat) aplikasi ini menghentingkan support [compatible] untuk OS di Windows 10 tersebut, nah nanti ini kan akan jadi boomerang [tidak bisa berjalan aplikasi ini] yang sangat-sangat tidak menguntungkan ya, jadi memang ya, sarannya memang harus diganti ke Windows yang bisa diupdate ke Windows 11," katanya.
Namun dikatakannya, apabila instansi memilih opsi kedua yakni tetap memakai windows 10 dengan memperkuat (hardening) kemanannya dari berbagai sisi, ini lebih murah secara financial namun agak mahal secara technical dan upgprading sumberdaya manusianya. "Karena ini kalau nggak dilakukan, nggak akan aman gitu lo, karena terkait cybersecuritnya bakal melemah," ucap Tio
Menurutnya Serangan siber semakin canggih dan seringkali menargetkan kerentanan yang tidak terduga. Melalui strategi keamanan jaringan yang proaktif dan terencana seharusnya kita dapat menguatkan dan mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Sebagaimana perlunya kita merancang keamanan Infrastruktur IT dimulai dari lapisan paling bawah hingga paling atas.
Dikatakannya, Lapisan paling hilir adalah “Data” dimana kita memberikan edukasi ke semua pegawai agar melakukan compress & encryption data-data yang dianggap sensitif atau penting, ataupun memberikan passsword yang kuat terhadap akun komputer pribadinya (lapisan tiga “Host”), hingga ke Lapisan Hulu yakni Policies, Procedures, and Awareness dimana setiap pengguna mengikut aturan kebijakan perusahaan tidak boleh menuliskan passwordnya di lembaran kertas atau dimeja kerjanya misalkan. Hal ini tuturnya Mengadopsi dari framework Arsistektur Keamanan Jaringan pihak EC-Council.

Arsitektur Keamanan Jaringan Multi-Lapisan CND EC-Council (Foto: eccouncil.org)
Pemetaan potensi ancaman yang nampaknya sering ditemui adalah hampir banyak endpoint computer tidak terpassword komputer loginnya, tidak seluruhnya antivirus pihak ketiga (seperti Avast free Antivirus) telah dipasang pada seluruh endpoint computer. Jaringan WiFi masih ada beberapa titik yang menggunkan password sangat sederhana.
Ruangan server terkadang tidak dikunci malam hari/jam istirahat ketika pegawai tertentu bertugas, masih ada pegawai yang menuliskan password komputernya di kertas atau meja tempat bekerja, masih banyak peletakan switch/hub ditempat yang mudah dijangkau oleh orang asing. Belum adanya sistem penguncian MAC Address pada Teknologi Switch Manageable.
masih diaktifkannya fitur USB Drive Flashdisk (kerentanan Physical Attack Surface), pengaktifan Two-Factor Authentication (2FA) pada akun-akun penting kantor juga haruslah selalu diterapkan. Hingga memiliki kebijakan dan prosedur IT yang tertulis yang mengharuskan pegawainya menaatinya kemudian.
Langkah jaminan terakhir dikatakannya, apabila kita telah berada pada fase diserang/terinfeksi virus kantor kita, maka dengan adanya Strategi Disaster Recovery sebelumnya, yang komprehensif dan rancangan prosedur respons insiden, begitu juga perencanaan pemulihan jaringan yang cepat tanggap. Serta terdokumentasi dengan baik dan rinci setiap fase yang dilalui melalui berbagai Syslog terekam di setiap perangkat yang dibutuhkan maka Manajemen keamanan dengan Security Control yang “least privilege” bakalan sangat baik dalam membatasi hak akses pengguna jaringan hanya pada data atau akses yang diperlukan saja.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....