Muatan Lokal Penguat Identitas Pendidikan di Era Modern
- 08 Mei 2025 12:37 WIB
- Banjarmasin
KBRN, Banjarmasin: Muatan lokal bukan hanya pelengkap kurikulum, tetapi merupakan bagian integral dari pendidikan karakter. Muatan lokal menjadi suluh bagi generasi muda agar tetap berpegang pada nilai budaya sendiri.
"Di tengah arus globalisasi dan dominasi budaya asing seperti K-pop atau tren Barat lainnya, pendidikan lokal adalah benteng pertahanan identitas,” kata Faizal Embron memandu siaran khusus Obrolan Budaya “Suluh Banua” di Pro 4 RRI Banjarmasin, Minggu (4/5/2025) malam.
Tema yang diangkat adalah “Pengaruh Muatan Lokal dalam Dunia Pendidikan”. Diskusi ini membedah secara mendalam bagaimana pendidikan berbasis budaya lokal memberi warna dalam sistem pendidikan nasional, khususnya di Banjarmasin.
Narasumber lainnya Iberahim, S.H., dua mahasiswa, Dita Damayanti dan Yulia Wiranda. Hadir pula narasumber tamu Ketua Dewan Pendidikan Kota Banjarmasin, Drs. Muhammad Iderus.
"Perhatian terhadap muatan lokal semakin nyata dengan alokasi dana pemerintah sebesar Rp2,5 miliar setiap tahun. Saat ini, 95% SD dan 85% SMP di Banjarmasin telah menerapkan kurikulum muatan lokal, mulai dari pembelajaran sasirangan, gotong royong, hingga pelestarian lingkungan," ujar Muhammad Iderus.
Namun, tantangan masih ada, terutama pada kesiapan guru dalam mengajarkan materi berbasis budaya. Ia menyerukan agar sinergi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan komunitas budaya diperkuat, demi kualitas pendidikan yang lebih bermakna.
Sementara itu Iberahim turut menyoroti persoalan bahasa dalam pengajaran muatan lokal. Bahasa Banjar adalah jantung dari budaya kita.
"Sayangnya, banyak pengajar yang belum fasih, sehingga penyampaian nilai budaya menjadi kurang maksimal. Ini harus segera ditangani melalui pelatihan dan peningkatan kapasitas guru,” ucap Ibrahim dalam siaran tersebut.
Dilain sisi, Dita Damayanti mengungkapkan antusiasmenya terhadap kebangkitan budaya lokal di kalangan anak muda. Menurunya, film seperti Racun Sangga membuat mereka lebih tertarik mengenal budaya sendiri.
"Bahkan banyak teman saya yang mulai belajar bahasa Banjar, mengenal pasar terapung, dan mendalami kuliner lokal sebagai bentuk kebanggaan,” ujarnya.
Mahasiswa lainnya, Yulia Wiranda menambahkan bahwa pendidikan budaya tidak boleh sekadar seremonial. Diharapkan minimal 20% dari kurikulum diisi dengan materi kebudayaan lokal, agar siswa benar-benar memahami dan mencintai akar budayanya.
"Pendidikan berbasis muatan lokal adalah kunci menjaga identitas daerah di tengah gempuran modernitas. Kita butuh kerja sama antara sekolah, orang tua, komunitas, dan pemerintah agar muatan lokal benar-benar menjadi jiwa dari pendidikan, bukan hanya pelengkap formalitas,” ucap Muhammad Iderus, menutup siaran Suluh Banua Pro 4 RRI Banjarmasin.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....