Gubernur Muhidin Minta Penanganan Karhutla Gambut Secara Khusus

  • 07 Okt 2026 12:48 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarbaru - Gubernur Kalimantan Selatan H. Muhidin meminta penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan gambut terus dilakukan secara khusus. Sebab, api tidak hanya berada di permukaan, tetapi masih dapat bertahan dan menjalar di lapisan bawah tanah.

Hal itu disampaikan Muhidin saat meninjau sejumlah titik karhutla di Banjarbaru dan Kabupaten Banjar. Pada hari Senin 5 Oktober 2026.

Dalam peninjauan tersebut, Muhidin mengarahkan tim gabungan untuk membuka dan membalik lapisan gambut yang masih menyimpan bara. Langkah ini dilakukan agar titik api di bawah permukaan dapat ditemukan dan pembasahan menjadi lebih efektif.

Tiga lokasi yang ditinjau yakni kawasan Jalan Bandara Syamsudin Noor, Jalan Gubernur Syarkawi Lingkar Utara di sekitar RSJ Sambang Lihum, serta Guntung Damar. Di kawasan Bandara Syamsudin Noor, tim gabungan BPBD Kalsel, Satpol PP/Damkar Kalsel, dan Dinas PUPR Kalsel melakukan pengangkatan serta pembalikan lapisan tanah untuk mencari bara yang masih aktif.

Sementara di sekitar RSJ Sambang Lihum, Muhidin meminta alat berat berupa ekskavator dikerahkan untuk membalik tanah gambut yang terbakar. Menurut Muhidin, keberadaan asap dari permukaan tanah menjadi salah satu tanda masih adanya bara di bawahnya.

“Kalau asapnya tinggi itu pasti ada apinya. Kalau asapnya sudah rendah berarti apinya sudah berkurang. Nah, ini memang perlu kita mengalami kembali di bawah-bawahnya, di akar-akarnya,” ujar Muhidin.

Ia juga mengingatkan masyarakat dan awak media untuk berhati-hati saat berada di kawasan gambut yang terbakar. Sebab, meski api di permukaan sudah berkurang, tanah masih dapat menyimpan panas.

“Ini kita menjejak di tanahnya, ini pun panas. Jadi hati-hati rekan-rekan media. Kalau masuk ke dalam, hati-hati, karena di dalam itu panas,” katanya.

Muhidin juga menilai metode penyuntikan air ke dalam tanah tidak selalu efektif untuk kondisi lahan gambut seperti di sejumlah lokasi yang ditinjau. Setelah lapisan gambut dibuka dan dibalik, ditemukan kandungan air yang cukup banyak di bagian bawah tanah.

“Kalau penyuntikan, saya kira ini hampir tidak efisien lagi. Karena kita lihat ada beberapa lahan yang kita buka, kita balik, ternyata di bawah itu airnya banyak,” katanya.

Sebagai alternatif, Muhidin mengarahkan agar pembasahan dilakukan dari permukaan secara berpindah-pindah. Cara tersebut dinilai dapat membuat air menyebar ke area gambut yang masih menyimpan bara.

“Lebih baik pembasahan di luar. Menembak ini kalau bisa setengah menit di satu titik, kemudian pindah lagi setengah menit, pindah lagi setengah menit, akhirnya airnya menyebar,” ujarnya.

Muhidin menjelaskan, air yang disuntikkan ke lapisan bawah tanah justru dapat turun ke bagian yang telah banyak mengandung air. Sementara bara masih dapat menjalar pada lapisan gambut di atasnya.

“Tidak ada fungsinya air yang di bawah itu untuk memadamkan api yang gambutnya ada, karena gambutnya ini terlalu menjalar,” kata Muhidin.

Dalam peninjauan tersebut, Gubernur didampingi Kepala BPBD Kalsel Ronny Eka Saputra, Direktur RSJ Sambang Lihum Yuddy Riswandhy Noora, Kepala Dinas PUPR Kalsel M. Yasin Toyib, serta jajaran terkait.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....