Kemarau Dipastikan Tak Pengaruhi Stok Pangan Kalsel
- 08 Agt 2026 12:38 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarbaru - Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan memastikan ketersediaan stok pangan daerah tetap aman meski saat ini wilayah Kalsel menghadapi musim kemarau yang berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Berbagai langkah antisipasi telah disiapkan untuk menjaga produksi pertanian sehingga ketahanan pangan tetap terjaga.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Kalimantan Selatan, Syamsir Rahman, mengatakan berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), produksi pangan Kalsel masih jauh di atas kebutuhan masyarakat. “Dirilis oleh tim BPS, angka produksi kita mencapai 1.179.000 ton atau hampir 1,2 juta ton. Sementara kebutuhan Kalimantan Selatan sekitar 600 ribu ton. Artinya kita masih surplus sekitar 600 ribu ton,” ujar Syamsir.
Ia menjelaskan, capaian produksi hingga awal Agustus 2026 bahkan lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada Agustus 2025. Kondisi tersebut menunjukkan stok pangan daerah dalam kondisi sangat memadai.
“Produksi kita pada Agustus 2026 meningkat sekitar 15 persen dibanding Agustus tahun lalu. Artinya stok kita tersedia di Cadangan Pangan Pemerintah (CPP), lumbung pangan masyarakat, hingga gudang-gudang pangan di kabupaten dan kota. Jadi masyarakat Kalimantan Selatan tidak perlu khawatir karena cadangan pangan kita mencukupi, baik untuk padi, jagung maupun komoditas lainnya,” katanya.
Menurut Syamsir, peningkatan produksi tersebut juga didukung oleh strategi penyesuaian pola tanam di sejumlah wilayah. Saat daerah lain mulai terdampak musim kemarau, lahan rawa lebak di Kabupaten Hulu Sungai Utara justru memasuki musim tanam setelah air surut.
“Kemarin kita baru melakukan penanaman di Hulu Sungai Utara seluas sekitar 15 ribu hektare. Di kawasan rawa lebak, saat musim hujan lahannya tidak bisa ditanami karena tergenang, tetapi ketika air surut justru menjadi waktu yang tepat untuk tanam. Ini menjadi pengganti luas tanam dari daerah lain yang sementara tidak bisa melakukan penanaman,” ucapnya.
Selain HSU, aktivitas panen juga masih berlangsung di wilayah Tabalong dan Hulu Sungai Tengah. Sehingga pasokan gabah dan beras dipastikan tetap berlanjut hingga puncak musim kemarau pada September mendatang.
Untuk mengantisipasi dampak kekeringan terhadap lahan pertanian, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan telah menyiapkan berbagai langkah mitigasi. Mulai dari pompanisasi, pemanfaatan sungai yang memenuhi kualitas air, hingga penggunaan sumur bor dan sumur pantek yang telah dimiliki petani.
“Semua sudah kita antisipasi sejak awal bersama Brigade Pangan, Balai Penyuluhan Pertanian (BPP), dan para penyuluh di lapangan. Kalau ada sawah yang mengalami kekeringan, pompanisasi sudah kita siapkan. Namun untuk sungai yang airnya bersifat asam tentu tidak bisa disedot karena bisa merusak tanaman, sehingga alternatifnya menggunakan sumur bor maupun sumur pantek,” ujarnya.
Di sektor tanaman jagung, pemerintah juga telah menyiapkan strategi diversifikasi dengan mengganti sebagian areal tanam menggunakan komoditas sorgum yang dinilai lebih adaptif terhadap kondisi musim kemarau. "Jagung memang cukup sulit ditanam saat kemarau. Karena itu, dengan dukungan berbagai pihak, termasuk Kapolda Kalimantan Selatan, kita akan menggantinya dengan tanaman sorgum agar lahan tetap produktif,” ujarnya.
Syamsir juga menegaskan penanganan karhutla tetap menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan sektor pertanian. Ia berharap upaya pemadaman melalui water bombing menggunakan helikopter terus dilakukan apabila terjadi kebakaran di kawasan rawan.
“Kami berharap dukungan penanganan karhutla melalui water bombing tetap dilakukan sehingga dampaknya terhadap lahan pertanian dapat diminimalkan. Dengan seluruh langkah antisipasi yang telah disiapkan, mudah-mudahan ketahanan pangan Kalimantan Selatan tetap menjadi yang terbaik di regional dan mampu mempertahankan posisinya di tingkat nasional,” ujarnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....