Penanganan ODGJ Tak Bisa Hanya Andalkan Rumah Sakit

  • 15 Mei 2026 17:49 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Penanganan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Kalimantan Selatan dinilai tidak cukup hanya mengandalkan layanan rumah sakit. Dukungan keluarga dan komunitas disebut menjadi faktor penting dalam proses pemulihan pasien kesehatan mental.

Direktur RSJ Sambang Lihum Kalimantan Selatan, dr. Yuddy Riswandhy Noora mengungkapkan, masih tingginya stigma masyarakat menjadi tantangan besar dalam penanganan pasien gangguan jiwa. Terutama setelah pasien kembali ke lingkungan sosialnya.

“Intervensi rumah sakit saja tidak cukup. Dibutuhkan sistem dukungan dari komunitas agar pasien dapat pulih dan kembali berfungsi di masyarakat,” ujar dr. Yuddy.

Data RSJ Sambang Lihum mencatat sepanjang 2025 terdapat 29.979 kunjungan rawat jalan dan 4.228 kasus rawat inap. Kota Banjarmasin menjadi wilayah dengan angka rawat inap tertinggi mencapai 946 kasus, disusul Kabupaten Banjar 762 kasus dan Tanah Laut 439 kasus.

Selain itu, pada Januari hingga Maret 2026 tercatat 25 pasien kembali dirawat atau mengalami re-admisi. Kondisi tersebut dipengaruhi minimnya dukungan keluarga, rendahnya produktivitas pasien, hingga ketidakpatuhan mengonsumsi obat.

“Ketika masyarakat mau menerima dan komunitas ikut mendampingi, maka penyandang gangguan jiwa tidak hanya bisa sembuh, tetapi juga hidup mandiri dan produktif,” katanya.

Berdasarkan data WHO, satu dari delapan orang di dunia mengalami gangguan mental. Sementara di Kalimantan Selatan, setiap 1.000 keluarga terdapat lima keluarga yang memiliki anggota dengan gangguan jiwa berat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....