Menjawab Brain Drain dengan Spirit Ruhui Banua

  • 01 Mar 2026 23:32 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Secara konsep brain drain merupakan perpindahan potensi terbaik bangsa ke negara lain sehingga berdampak pada kehilangan sumber daya unggul. Namun, fenomena tersebut tidak selalu bermakna negatif jika tetap dibarengi kebanggaan identitas kebangsaan.

Hal itu dikemukakan Novy Listiana, MH. Dosen Fakultas Syariah UIN Antasari, dalam Ragam Budaya “Ruhui Barakatan" Pro 4 RRI Banjarmasin, Sabtu 28 Februari 2026. Topik yang diangkat, yakni "Paspor Dunia, Hati Banua: Menjawab Tantangan Brain Drain dengan Spirit Ruhui", yang kini viral di media sosial.

Menurutnya, dalam perspektif hukum tata negara Indonesia yang menganut asas ius sanguinis, identitas kewarganegaraan melekat karena garis keturunan. Hal itu sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006.

“Kemanapun kita melangkah, akar itu tetap ada. Yang dipertanyakan bukan soal kaki berpijak di mana, tetapi apakah hati masih tertanam di Banua,” ujar Novi.

Fenomena berpindahnya sumber daya manusia potensial ke luar negeri dinilai bukan sekadar persoalan ekonomi. Persoalan itu juga menyangkut identitas dan kecintaan terhadap tanah kelahiran.

Sementara itu, Muhammad Suaqi Ansari menyoroti dari perspektif nilai keislaman. Ia mengutip Surah Al-Hujurat ayat 13 tentang keberagaman bangsa dan pentingnya saling mengenal, serta menekankan prinsip hubbul wathan atau cinta tanah air sebagai bagian dari tanggung jawab moral.

Menurutnya, keputusan berkarier di luar negeri sah-sah saja. Akan tetapi jangan sampai kecintaan terhadap negara diukur sebatas materi dan kenyamanan semata.

“Bentuk kehadiran dan kontribusi nyata untuk daerah tetap menjadi pilihan saya,” ucapnya.

Pandangan serupa disampaikan Lutfia Fitri Naila yang mengaitkan fenomena brain drain dengan filosofi budaya Banjar. Ia menilai, pengalaman di luar daerah atau luar negeri dapat menjadi bekal peningkatan kualitas diri, namun idealnya bermuara pada kontribusi untuk Banua.

"Seperti nilai waja sampai kaputing, semangat kembali membangun kampung halaman, serta ruhui rahayu yang bermakna solidaritas sosial," uajarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....