Gym Majapahit, Solusi Irit di Masa Sulit

  • 16 Jun 2024 19:40 WIB
  •  Banjarmasin

KBRN, Banjarbaru: Berakhirnya masa pandemi beberapa waktu lalu membuat usaha sarana berolah raga atau lebih dikenal dengan istilah gym kembali menggeliat ke permukaan.

Namun kini muncul istilah populer pada kalangan muda yaitu 'gym majapahit vs gym modern stylish'. Secara harfiah, 'gym' merujuk kepada tempat untuk berolahraga, sementara diksi 'Majapahit' diambil mengacu kepada kerajaan besar yang pernah berdiri di wilayah nusantara pada masa lampau. Namun apabila digabungkan, istilah ini menciptakan sebuah konsep yang menarik dan mengandung nilai filosofis tersendiri.

'Gym Majapahit seringkali merujuk kepada tempat fitness atau pusat kebugaran yang memiliki peralatan lama, tidak terawat, berkarat, atau bahkan nampak sudah usang. Meskipun demikian, istilah ini digunakan secara jenaka dan tidak bermaksud merendahkan. Sebaliknya, justru untuk mengungkapkan kekaguman atau rasa nostalgia terhadap peralatan olahraga yang masih berfungsi meskipun berusia sudah cukup tua. “Gym majapahit” dianggap sebagai solusi jitu bagi kaum “low budget”.

Sebaliknya Gym Modern Stylish atau Mega Gym yang menawarkan kenyamanan seperti alat angkat beban dan kardio yang lengkap dan canggih, berbagai macam kelas studio, berpendingin ruangan, lantai yang bersih, loker yang aman, minuman isotonik lengkap berjejer rapi dalam lemari pendingin, kamar mandi dan ruang ganti yang estetik dengan biaya keanggotaan yang tidak murah tentunya, belum tentu dilirik oleh mereka para pelanggan gym aliran majapahit. Gym mewah cocok bagi mereka yang mengutamakan kenyamanan, memiliki kemampuan finansial dan lebih individualis.

Biasa terjadi di Gym Modern Stylish, banyak anggota yang datang hanya untuk bergaya di depan kaca, melakukan swafoto dengan pakaian olahraga bermerk mahal lalu kemudian diunggah pada akun media sosial seperti Instagram.

Alih-alih berolahraga, mereka lebih banyak menjadikan kegiatan pergi ke gym sebagai rutinitas kekinian untuk mendapatkan pengakuan semata, setelahnya dilanjut dengan nongkrong ke mall atau resto ternama bersama teman-teman menikmati sajian yang tinggi kalori sehingga terkadang ujungnya sangat disayangkan malah terkesan membuang uang tapi tak pernah serius memanfaatkan fasilitas olahraga sesungguhnya.

Pengguna gym majapahit cenderung lebih fokus untuk tampil bugar sembari membesarkan massa otot. Mereka tidak peduli dengan penampilan bahkan terkadang hanya mengenakan sendal jepit.

Pengguna gym harus pintar memanfaatkan alat kebugaran untuk melatih kekuatan otot di berbagai posisi tubuh, lebih berimprovisasi dan apa adanya.

Mereka tidak peduli apakah alatnya usang atau tidak, meski kurang 'safety' dan kotor bekas keringat atau bekas ceceran oli. Ruangan yang panas berkipas angin dan bercampur aroma keringat tidak membuat mereka kehilangan semangat untuk berlatih angkat beban. Disini akan mudah ditemukan teman baru yang solider dan tidak pelit ilmu.

“Gym ini menjawab semua keinginan para kaum dana minimalis, disini bisa berlatih menggunakan beragam alat tapi tanpa perlu menguras biaya karena harganya yang sangat terjangkau, ” ujar Niko Edythia Putra salah satu personal trainer yang ditemui pada gym aliran majapahit di daerah trikora banjarbaru bernama Dimasindo Gym, Sabtu (15/6/2024).

Niko juga menegaskan kembali bahwa konsistensi dan disiplin menjadi kunci keberhasilan dalam mencapai target yang diinginkan, yang penting rutin berolahraga, tetap menjaga pola hidup sehat. Meskipun terkesan sederhana, istilah 'gym majapahit' yang menggemparkan dunia media sosial saat ini mencerminkan kreativitas dan keunikan dalam cara berkomunikasi kawula muda di era digital.

Seiring berjalannya waktu, mungkin kita akan melihat lebih banyak lagi tren serupa yang muncul di media sosial dengan pemahaman yang lebih dalam tentang budaya dan mengandung nilai sejarah di baliknya tanpa mengurangi makna intrinsik yang sebenarnya. Sekali lagi, utamakan fungsi bukan gengsi.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....