Presisi Pola Jadi Kunci Busana Sasirangan Berkualitas

  • 24 Agt 2026 18:27 WIB
  •  Banjarmasin
Poin Utama
  • Teknik pemotongan pola pada kain Sasirangan merupakan faktor penting dalam menghasilkan busana lokal yang presisi dan berkualitas tinggi.
  • Desainer muda Banjarmasin Naufal Lisna Reisya menjelaskan bahwa penataan pola harus memperhatikan karakter motif tradisional agar tidak mengalami distorsi ketika diaplikasikan pada pakaian.
  • Karakteristik kain katun dan tata letak motif tradisional Sasirangan membutuhkan kecermatan khusus dari perancang dan penjahit untuk menjaga keselarasan motif pada busana.

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Penerapan teknik pemotongan pola pada kain Sasirangan khas Kalimantan Selatan menjadi salah satu faktor penting dalam menghasilkan busana lokal yang presisi. Karakteristik kain berbahan katun serta tata letak motif tradisional membutuhkan kecermatan khusus dari perancang dan penjahit agar motif tetap selaras pada busana.

Desainer muda Banjarmasin, Naufal Lisna Reisya (Eca), dalam siaran "NGOBRAS" RRI Pro1 Banjarmasin, Jumat, 21 Agustus 2026, menjelaskan berbagai tantangan teknis dalam pembuatan busana berbahan Sasirangan. Menurutnya, penataan pola harus memperhatikan karakter motif agar tidak mengalami distorsi ketika diaplikasikan pada pakaian.

"Pemahaman mengenai karakteristik garis dan motif kain Sasirangan sangat dibutuhkan agar pola pakaian pria dan wanita tidak mengalami distorsi," ujarnya. “Penempatan motif harus disesuaikan dengan bentuk dan desain busana.”

Menurut Eca, struktur anatomi tubuh pria yang cenderung lebih lebar pada bagian bahu membutuhkan penataan pola yang berbeda dengan busana wanita. Pada kemeja pria, motif utama idealnya ditempatkan pada bagian dada dan bahu agar tampilan busana terlihat seimbang.

Sementara itu, potongan busana wanita yang umumnya melebar ke bagian bawah memberikan fleksibilitas lebih dalam penempatan motif. Ketidaktepatan membaca pola dapat membuat tampilan akhir busana terlihat tidak proporsional, terutama pada bagian atas.

Kain Sasirangan berbahan katun memiliki karakter serat yang relatif fleksibel sehingga lebih mudah ditangani dibandingkan bahan licin seperti satin. Pemilihan arah serat yang tepat juga membantu proses penjahitan dan menjaga bentuk busana agar tetap baik ketika dikenakan.

"Proses pembuatan kemeja Sasirangan yang bernilai tinggi membutuhkan kecermatan ekstra pada tahap pemotongan pola," katanya. “Kesalahan sedikit saja dapat memengaruhi keselarasan motif dan tampilan keseluruhan busana.”

Tantangan teknis tersebut juga kerap ditemui konsumen ketika berkonsultasi mengenai penjahitan kain Sasirangan buatan tangan. Perbedaan penanganan antara penjahit umum dan penjahit yang memahami karakter kain tradisional dapat memengaruhi hasil akhir keserasian motif.

Konsumen disarankan memahami karakteristik bahan dan desain busana sebelum menyerahkan kain Sasirangan kepada penjahit. Komunikasi antara konsumen, desainer, dan penjahit menjadi penting agar motif serta potongan busana dapat disesuaikan sejak awal.

Pelestarian kain Sasirangan melalui inovasi desain dan teknik pemotongan pola yang presisi dinilai mampu meningkatkan daya saing produk UMKM Kalimantan Selatan. Kolaborasi antara desainer muda dan penjahit lokal juga menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan industri kriya tekstil daerah.

"Sinergi pengetahuan antara penjahit dan desainer sangat menentukan kualitas estetika kain tradisional kita," ujarnya. “Kolaborasi tersebut juga dapat membuat Sasirangan semakin relevan dengan perkembangan mode.”

Pemahaman mengenai teknik penataan pola diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan pelaku usaha dan pecinta fashion Banua. Inovasi yang tetap mempertahankan karakter motif tradisional menjadi langkah penting untuk memperkuat posisi Sasirangan sebagai bagian dari identitas budaya Kalimantan Selatan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....