100 Tangga Nada Etnis Jadi Jalan Memperkaya Komposisi Musik Indonesia

  • 13 Agt 2026 10:54 WIB
  •  Banjarmasin

RRI.CO.ID, Banjarmasin - Musik Indonesia dinilai memiliki ruang eksplorasi yang jauh lebih luas daripada sekadar terpaku pada tangga nada yang selama ini umum digunakan. Mengenal beragam tangga nada etnis dunia dapat menjadi cara bagi musisi untuk memperkaya karakter dan warna dalam menciptakan komposisi musik.

Seorang musisi senior, Drs. Candra Hasan, Letkol Purn. TNI AD, dalam siaran Pandiran Baisukan PRO 4 RRI Banjarmasin bersama PAPPRI, Rabu, 12 Agustus 2026, membawa tema “Korelasi 100 Tangga Nada Etnis dalam Komposisi Musik” untuk dibahas. Dalam dialog yang dipandu Kyan, Candra membahas keberagaman tangga nada dari berbagai etnis dan kaitannya dengan pengembangan musik.

Candra mengatakan, pembahasan mengenai ratusan tangga nada etnis masih jarang diangkat, padahal pengetahuan tersebut dapat membuka cakrawala baru bagi para musisi. Menurutnya, kekayaan musik daerah Indonesia tidak harus selalu ditempatkan dalam batas tangga nada yang sudah umum dikenal.

“Jangan cuma main lima nada. Dunia punya seratus cara berpikir nada,” ujar Candra saat menjelaskan pentingnya keberanian mengeksplorasi berbagai tangga nada dalam menciptakan karya musik.

Ia menjelaskan, dari sejumlah tangga nada dasar dapat berkembang berbagai sistem musik yang digunakan oleh masyarakat di berbagai belahan dunia. Di Asia Tenggara, misalnya, terdapat selendro, pelog, Sunda degung, Bali selendro, hingga berbagai sistem nada yang berkembang di Malaysia, Thailand, dan Kamboja.

Keragaman tersebut juga ditemukan di Asia Timur dan Selatan, Timur Tengah, Eropa, Afrika, hingga Amerika. Candra menyebut sejumlah contoh seperti Insen, Yosen dan Ryukyu dari Jepang, Raga dari India, Makam dari Arab dan Turki, hingga Blues dan Bebop dari Amerika.

Menurut Candra, pemahaman terhadap berbagai tangga nada bukan berarti menghilangkan identitas musik Indonesia. Sebaliknya, pengetahuan tersebut justru dapat memperkaya jati diri musisi dalam menghasilkan karya yang lebih beragam.

“Dengan mengenal 100 tangga nada ini, kita tidak kehilangan jati diri. Justru kita memperkaya jati diri karena kita jadi punya 100 cara untuk bilang, aku Indonesia,” katanya.

Candra juga menilai pentatonis tetap merupakan bagian penting dari akar musik Indonesia. Namun, para musisi tidak seharusnya berhenti pada pola yang sudah dikuasai. Eksplorasi terhadap tangga nada lain dapat membuka kemungkinan baru dalam aransemen maupun penciptaan lagu.

Ia mengibaratkan pentatonis sebagai akar yang menjadi dasar pertumbuhan pohon musik Indonesia. Akar tersebut, menurutnya, perlu terus menjalar dan menyerap berbagai unsur agar musik Indonesia dapat tumbuh lebih besar dan memiliki warna yang semakin kaya.

Dalam siaran tersebut, Candra juga menjelaskan bahwa perubahan musik dari era 1980–1990-an hingga musik modern tidak selalu berarti perubahan pada tangga nada. Perbedaannya lebih banyak terlihat pada karakter, ekspresi, pengolahan, serta cara sebuah lagu dikemas sesuai perkembangan zaman.

Pandiran Baisukan PRO 4 RRI Banjarmasin edisi Rabu tersebut menjadi ruang bagi pendengar untuk mengenal musik tidak hanya sebagai bunyi dan melodi, tetapi juga sebagai bagian dari kekayaan budaya berbagai etnis. Pembahasan mengenai 100 tangga nada diharapkan mendorong generasi muda dan pelaku musik untuk lebih berani bereksperimen tanpa meninggalkan identitas budaya Indonesia.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....