Dari Jogja ke Kalsel, Dewa Asnawi Berkarya
- 18 Feb 2026 10:53 WIB
- Banjarmasin
RRI.CO.ID, Banjarmasin - Program siaran Pandiran Baisukan kembali menghadirkan seorang musisi asal Jogja yang sudah belasan tahun menetap di Kalimantan Selatan. pada Rabu, 18 Februari 2026, siaran yang bekerja sama dengan PAPPRI ini menghadirkan narasumber Juzan Asnawi yang lebih dikenal dengan nama Dewa Asnawi, seorang pemain sekaligus pengajar musik yang telah menapaki panggung nasional hingga internasional.
Dalam dialog yang mengangkat tema “Musik sebagai Jalan Hidup”, Dewa berbagi kisah panjang perjalanan kariernya, mulai dari masa belajar hingga pengalaman tampil di berbagai panggung bergengsi. Ia menekankan bahwa memilih musik sebagai profesi berarti siap hidup dari panggung ke panggung dengan segala dinamika yang menyertainya.
Dewa mengungkapkan, panggilan tersebut awalnya muncul saat dirinya diminta oleh pemilik sekolah tempatnya mengajar di Banjarbaru untuk menggunakan nama “Dewa” agar selaras dengan nama lembaga tersebut. “Awalnya itu hanya untuk kebutuhan branding sekolah musik, tapi akhirnya melekat sampai sekarang. Murid-murid dan rekan musisi memanggil saya Pak Dewa,” ujarnya dalam siaran.
Ia juga menceritakan latar belakangnya sebagai putra asli Yogyakarta, anak ketujuh dari sembilan bersaudara yang seluruhnya berkecimpung di dunia musik. Bakat seni itu, menurutnya, mengalir dari sang ayah yang merupakan pengajar not balok di sekolah musik ABRI.
Sejak lulus SMP, Dewa memilih melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Musik dengan mengambil jurusan Fagot, alat musik tiup kayu yang jarang dikenal dan bernilai tinggi. Pendidikan itu kemudian ia lanjutkan di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, menjadi satu-satunya mahasiswa yang secara konsisten menekuni Fagot pada masanya.
“Bermain Fagot itu pilihan yang tidak umum. Tapi justru di situ saya menemukan identitas bermusik saya. Musik bukan sekadar hobi, tapi jalan hidup yang saya pilih dengan sadar,” ucapnya.
Karier profesionalnya semakin terbuka ketika RRI Jakarta membentuk grup orkestra pertama di Indonesia dan merekrut sejumlah mahasiswa ISI. Selama 17 tahun berkarier di Jakarta, Dewa berkesempatan tampil di berbagai negara seperti Singapura, Cina, hingga Vietnam.
“Yang paling berkesan saat saya menjadi bintang utama di panggung orkestra di Ho Chi Minh City, Vietnam. Saya memainkan Fagot diiringi musisi dari berbagai negara. Itu momen yang membuat saya semakin yakin bahwa musik memang jalan hidup saya,” ucapnya.
Perjalanan tersebut kemudian membawanya ke Kalimantan Selatan setelah mendapat tawaran dari almarhum Ibnu untuk membangun Alto Music School di Banjarmasin. Meski sempat terhenti karena wafatnya pendiri sekolah musik tersebut, Dewa memilih melanjutkan dedikasinya sebagai pengajar dan performer hingga kini.
“Di balik sorotan panggung ada disiplin, latihan, dan etika kerja. Bagi siapa pun yang ingin menekuni dunia stage performance, kuncinya konsisten dan menjaga sikap. Karena ketika musik sudah menjadi jalan hidup, setiap panggung adalah amanah yang harus dijalani sepenuh hati,” ucap Dewa mengakhiri dialog tersebut.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....