Mengurai Luka yang Lama Terdiam
- 27 Des 2025 17:39 WIB
- Banjarmasin
KBRN, Banjarmasin: Judul puisi "Tautan Hidupku" menjadi gambaran sosok ibu sebagai sumber cinta tanpa syarat yang kerap menyembunyikan lelah dan sakitnya. Alvian menyampaikan bahwa puisi menjadi medium aman untuk meluapkan perasaan yang sulit diungkapkan secara lisan.
“Lewat puisi, saya bisa jujur pada perasaan tanpa harus banyak bicara,” kata Alvian dalam siaran Ragam Budaya "Ruang Sastra" Pro4 RRI Banjarmasin, Kamis (25/12/2025).
Ragam Budaya mengangkat tema “Hari Untuk Luka yang Tak Pernah Bersuara”. Program ini menjadi ruang ekspresi sastra yang menghadirkan puisi, perenungan, dan pengalaman personal para penggiat sastra.
Sejak awal nuansa hening dan empatik terjalis mengajak pendengar menyelami luka-luka batin yang kerap tersembunyi di balik senyum dan diam. Tema ini dipilih sebagai upaya memberi ruang bagi rasa yang jarang terucap, namun nyata hadir dalam kehidupan banyak orang.
Halipah, Alvian, dan Yuliyana hadir membacakan puisi tentang sosok ibu, pengorbanan, dan luka yang tak selalu bersuara. Puisi-puisi yang disajikan lahir dari pengalaman personal maupun refleksi sosial yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Yuliyana turut menghadirkan suasana haru melalui puisi "Mama" yang singkat namun kuat. Ia menyinggung pengalaman kehilangan ibu sejak usia dini, yang kemudian menjadikan puisi sebagai ruang dialog batin.
"Sastra membantunya merawat ingatan dan rasa rindu yang tidak selalu bisa diceritakan secara langsung," ujarnya.
Sementara itu, Halipah membacakan puisi tentang sosok perempuan hebat yang memilih diam demi melindungi orang-orang yang dicintainya. Menurutnya, luka tidak selalu hadir dalam bentuk air mata, melainkan sering tersembunyi dalam kalimat “tidak apa-apa” yang diucapkan berulang kali.
"Puisi dapat menjadi bentuk apresiasi terhadap luka, bukan untuk meratapi, tetapi untuk memahaminya. Sastra memberi ruang aman bagi perasaan yang selama ini terpendam agar tidak hilang tanpa makna," ucapnya.
Ketiga narsum sepakat, sastra memiliki peran penting sebagai jembatan empati. Alvian menegaskan bahwa menulis dan membaca puisi adalah cara berdamai dengan diri sendiri.
“Tidak semua luka perlu disuarakan keras-keras, tapi semuanya layak didengar,” katanya.
Sedangkan Yuliyana berharapagar ruang-ruang sastra terus hidup sebagai tempat berbagi rasa. Hal senada disampaikan Halipah bahwa mengenali luka adalah langkah awal untuk saling memahami sebagai manusia.
"Ketika luka diberi ruang, ia tidak lagi menjadi beban, melainkan pelajaran yang menguatkan," ujatnya..
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....