Puisi tentang Ibu, Jejak Kasih Sepanjang Waktu
- 26 Des 2025 12:08 WIB
- Banjarmasin
KBRN, Banjarmasin: Program Ruang Sastra di Pro 4 RRI kembali menjadi ruang ekspresi bagi para pecinta sastra dengan menghadirkan pembacaan puisi bertema perempuan hebat bernama ibu, Kamis (25/12/2025).
Dalam acara tersebut, tiga pecinta puisi, yakni Yuliana, Alvian, dan Halipah, tampil secara bergiliran membacakan karya mereka. Masing-masing penyair menyuguhkan dua puisi dengan gaya ungkap, diksi, dan sudut pandang yang berbeda.
Meski hadir dengan karakter dan kekhasan masing-masing, seluruh puisi yang dibacakan tetap berporos pada sosok ibu sebagai sumber cinta, keteguhan, pengorbanan, serta kekuatan hidup yang tak lekang oleh waktu.
Puisi pertama dibawakan Alvian berjudul 'Tautan Hidupku' menggambarkan perjuangan ibu sebagai pelindung keluarga, yang diam-diam memendam sabar dan lelah demi kebahagiaan anak-anaknya. Yuliana menghadirkan puisi bernuansa haru yaitu 'mama' bercerita kerinduan pada ibu yang sederhana namun selalu menjadi tempat pulang. Puisi-puisi tersebut dibawakan dengan tenang namun penuh makna mendalam.
“Sebagai pembaca puisi, tentu ada keinginan agar pesan yang disampaikan dapat sampai kepada pendengar. Karena itu, pembawaan sangat penting, termasuk pengaturan intonasi,” ujar Halipah.
Ia menegaskan, membaca puisi tidak sekadar melafalkan kata-kata, tetapi juga menuntut kemampuan untuk merasakan dan menyatu dengan makna puisi yang dibawakan.
"Puisi paling dalam itu saat puisi yang kita tulis atau baca adalah tentang diri kita sendiri atau realita sosial yang kita lihat. Termasuk pemilihan kata, ekspresi dan intonasinya," kata Yuliana.
Sementara itu, Alvian dan Halipah mengungkapkan bahwa membaca puisi merupakan salah satu bentuk ekspresi diri yang bebas. Melalui puisi berjudul Perempuan Hebat, ia menegaskan sosok ibu sebagai perempuan tangguh yang tidak hanya membesarkan anak-anaknya, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kehidupan serta keberanian dalam menghadapi tantangan.
Alvian yang mengaku suka dengan gaya dan puisi Sapardi Djoko Damono, sementara Yuliana dan Halipah justru memiliki pandangan unik terkait sosok idola di dunia kepenyairan. Keduanya mengaku tidak memiliki tokoh favorit tertentu karena menilai setiap penyair memiliki keistimewaan masing-masing.
"Terlepas siapapun penulisnya, selama puisi itu mampu menyentuh hati maka karya tersebut tentu layak untuk diapresiasi," ucap Halipah.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....