Karya Lukis: Menyampaikan Pesan Sosial Budaya

  • 10 Agt 2025 00:05 WIB
  •  Banjarmasin

KBRN, Banjarmasin: Lukisan adalah bentuk ekspresi manusia sudah ada sejak ribuan tahun lalu, jauh sebelum kata-kata tercipta. Sejarah seni lukis dimulai pada masa prasejarah, di mana manusia purba meninggalkan jejak mereka dalam bentuk gambar-gambar di dinding gua.

Lukisan pertama kali ditemukan di gua-gua yang tersebar di berbagai belahan dunia, seperti di Gua Lascaux di Perancis dan Gua Altamira di Spanyol. Gambar-gambar tersebut, yang biasanya menggambarkan hewan atau aktivitas berburu, menjadi bentuk komunikasi visual pertama bagi manusia purba.

Apa Itu Lukisan? Secara sederhana, lukisan adalah karya seni yang dihasilkan dengan cara mengaplikasikan cat atau pewarnaan pada permukaan datar seperti kanvas, kertas, atau media lainnya. Lukisan merupakan salah satu cabang seni rupa yang memiliki kekuatan untuk menyampaikan ide, perasaan, atau pesan tertentu melalui visual. Berbeda dengan seni lainnya, lukisan lebih menekankan pada elemen garis, warna, dan komposisi untuk menghasilkan karya yang memikat mata sekaligus merangsang pikiran.

Lukisan tidak hanya bisa menggambarkan apa yang terlihat di dunia nyata, tetapi juga bisa mengungkapkan dunia imajinasi, perasaan, hingga kritik sosial. Dari realisme yang menampilkan detail kehidupan sehari-hari hingga lukisan abstrak yang penuh ekspresi dan makna, seni lukis memiliki banyak bentuk dan gaya yang terus berkembang.

Di tengah sejarah panjang seni lukis dunia, Banjarmasin kini menjadi salah satu kota di Indonesia yang kaya akan seniman lukis berbakat. Dari berbagai aliran seni, pelukis-pelukis asal Kota Seribu Sungai ini turut berkontribusi dalam perkembangan dunia seni rupa.

Ahmad Noor, seorang pelukis realis asal Banjarmasin, telah banyak mencuri perhatian dengan karya-karya lukisannya yang penuh dengan detail. Salah satu karyanya yang paling terkenal adalah "Menjaring Postmo", sebuah lukisan yang menggambarkan dua anak kecil yang sedang menangkap ikan di sungai. Dengan teknik realisme yang sangat halus, Ahmad berhasil menghadirkan karya yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga menyampaikan nostalgia dan keindahan alam.

Lain lagi dengan Mauijatul Hasanah atau Maui, pelukis muda yang mengusung gaya pop art. Dengan warna-warna cerah dan figur perempuan bergaya kartun, Maui memberikan sentuhan modern pada dunia seni lukis Banjarmasin. "Melalui seni, saya ingin menunjukkan bahwa perempuan memiliki kekuatan dan kebebasan untuk berekspresi," ujar Maui saat pameran karya-karyanya.

Tidak hanya pelukis muda, seniman senior Nanang Muhammad Yusran juga telah lama menjadi bagian dari dunia seni lukis Banjarmasin. Meski usianya tidak lagi muda, semangatnya dalam berkarya tak pernah pudar. Dalam pameran tunggal bertajuk “Titik Nadir”, Nanang memamerkan puluhan lukisan yang menggambarkan kehidupan sosial dan budaya Banjarmasin selama bertahun-tahun

Seni Lukis sebagai Cermin Budaya dan Pesan Sosial: Lukisan di Banjarmasin tak hanya berhenti pada karya pribadi, tetapi juga mencerminkan budaya dan pesan sosial yang mendalam. Pameran “Muatan Lokal” yang diselenggarakan di Taman Budaya Kalsel adalah contoh bagaimana para pelukis lokal merespons isu-isu lingkungan, kebudayaan Banjar, dan Dayak melalui karya seni mereka.

Kepedulian terhadap lingkungan, misalnya, ditunjukkan oleh beberapa pelukis yang mengangkat tema kerusakan alam dan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem. "Seni adalah cara kami untuk berbicara tentang hal-hal yang penting. Kami tidak hanya ingin dilihat, tetapi juga ingin mengajak orang berpikir," ungkap salah satu pelukis dalam pameran tersebut.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....