Antologi Puisi, Sungai Luka Aku Mati

  • 20 Feb 2025 21:59 WIB
  •  Banjarmasin

KBRN, Banjarmasin: Dunia sastra Kalimantan Selatan kembali diramaikan dengan hadirnya antologi puisi Sungai Luka Aku Mati karya Fitri Sei Getas. Buku ini merupakan kumpulan puisi yang menggambarkan hubungan erat antara manusia dan sungai, terutama Sungai Barito yang menjadi bagian dari kehidupan Fitri sejak kecil.

Sebagai seorang penyair yang juga aktif mengisi dalam siaran Obrolan Budaya Ruang Sastra di Pro4 RRI Banjarmasin setiap Kamis malam, Fitri menyuarakan keprihatinannya terhadap kondisi sungai yang semakin rusak akibat ulah manusia.

Fitri Sei Getas, yang memiliki nama lengkap Fitriani, adalah putri daerah dari Sungai Getas, sebuah kampung di Kelurahan Lepasan, Kecamatan Bakumpay, Kabupaten Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Kecintaannya terhadap tanah kelahirannya begitu kuat, tercermin dalam puisi-puisinya yang banyak mengangkat kisah-kisah etnis Bakumpay dengan segala keunikan bahasa dan budaya yang sulit dipadankan dalam bahasa Indonesia.

Meski kini lebih banyak menghabiskan waktunya di kota besar, kenangan tentang Barito tetap melekat dalam hatinya, menjadi sumber inspirasi dalam setiap karya yang ia tulis.

Buku Sungai Luka Aku Mati hadir sebagai bentuk refleksi Fitri terhadap perubahan yang terjadi di lingkungan sekitarnya. Dalam buku ini, ia membagi puisinya ke dalam sembilan tema, yaitu budaya, keluarga, laut dan sungai, lingkungan hidup, pendidikan, religi, rindu, romansa, dan sosial.

Melalui puisi-puisinya, Fitri tidak hanya mengungkapkan nostalgia dan cinta terhadap Barito, tetapi juga menyampaikan kritik sosial terhadap perusakan alam yang semakin parah.

"Saya memilih judul Sungai Luka Aku Mati untuk menggambarkan kondisi sungai yang terluka akibat eksploitasi dan pencemaran lingkungan. Ingin menyampaikan bahwa ketika sungai terluka, kehidupan di sekitarnya juga turut terancam," ucapnya. Kamis (20/2/2025).

Fitri menceritakan, Puisi-puisi dalam buku ini bukan sekadar keluhan, tetapi juga bentuk protes dan harapan agar sungai tetap lestari untuk generasi mendatang, Ia percaya bahwa melalui sastra, kesadaran masyarakat terhadap lingkungan dapat ditingkatkan.

Buku ini diterbitkan oleh komunitas seni Brangwetan yang dikenal sebagai wadah bagi para seniman dan sastrawan untuk menyalurkan karya mereka dan dicetak oleh precetakan GWB Yogyakarta. Dengan terbitnya buku ini, Fitri berharap lebih banyak orang dapat memahami pentingnya menjaga lingkungan, terutama sungai, sebagai bagian dari kehidupan masyarakat Kalimantan Selatan. Ia juga ingin mengajak pembaca untuk kembali mengenali jati diri mereka melalui budaya dan sejarah daerah.

Sebagai buku pertamanya di tahun 2025, Sungai Luka Aku Mati menjadi bukti bahwa Fitri Sei Getas tidak hanya seorang penyair yang lihai merangkai kata, tetapi juga seorang anak sungai yang selalu merindukan Barito. Ia berharap, karyanya dapat menjadi pengingat bahwa sungai bukan hanya sekadar aliran air, tetapi juga saksi bisu perjalanan hidup dan identitas sebuah bangsa.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....